detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 29 Mei 2019 13:12 WIB

One on One

Sandy dan Basket: Dulu Benci Setengah Mati, Kini Jadi Cinta Sejatuh-jatuhnya

Mercy Raya - detikSport
Sandy Febiansyakh mengenal basket justru dari membencinya. (Agung Pambudhy/detikSport) Sandy Febiansyakh mengenal basket justru dari membencinya. (Agung Pambudhy/detikSport)
Jakarta - Sandy Febiansyakh, 33 tahun, mengenal basket dari keluarga. Bukannya senang, shooting guard CLS Knights Indonesia itu justru membenci basket setengah mati.

Sandy mengisahkan perkenalannya dengan basket dalam One on One detikSport. Betapa dia amat membenci olahraga itu hingga kemudian jatuh cinta dan menjadi pilar CLS, tim Jawa Timur di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008 Kalimantan Timur serta Timnas Indonesia.

Berikut kisahnya:


"Perkenalan dengan basket itu sebenarnya justru saya awalnya benci banget dengan basket. Karena, anggota keluarga saya, kakak saya itu memainkan bola basket di rumah, drible, lempar, kena tembok, jadinya berisik banget di dalam rumah.


Berisik banget waktu itu. Lama-lama, kakak membangun ring di depan rumah, tapi malah enggak pernah digunakan. Dari situ saya iseng, mulailah pegang bola basket, setiap pulang sekolah main. Dari situ, enggak tahu ya, jadi kebiasaan saja. Kalau enggak pegang bola basket, rasanya ada yang kurang.


Tonton juga video One on One Kapten CLS Knights: Cerita di Balik Juara ABL 2019:

[Gambas:Video 20detik]



Saat saya di SMP, di Jember itu, saat kelas satu, saya berkenalan basket lewat ekstrakurikuler. Saya diajak kakak kelas, karena saya memakai sepatu basket. Padahal, saya enggak bisa basket, cuma main-main saja di rumah itu.

Tapi, sekolah kami, di SMP N 5 Jember itu, tak memiliki tim basket yang bagus. Tim kami kalah dari SMP 1, SMP 2 dan SMP 3. Yang paling jagoan itu tim basket SMP N 1 Jember, namanya tim Radiska, Raden Dewi Sartika, itu SMP favorit, anak basket pasti maunya masuk sana.

SMP saya itu SMP 5 pinggir sawah, sekolah memang punya lapangan basket, lapangan tenis, cuma lokasinya di pinggir banget. Dari situ enggak tahu kenapa saya penasaran terus seperti lapar ingin latihan terus. Masa cuma bermain di ekskul seminggu sekali, enggak ada tambahan lagi.


Karena ingin tahu, saya jalan ke area Sports Center di Jember, oh ada lapangan basket, saya pikir oh ini yang latihan siswa sekolahan lain. Ternyata banyak anak dari mana-mana yang latihan di situ.

Beberapa hari saya cuma melihat dari luar pagar, mau masuk malu, sampai pada akhirnya satu orang mendekati saya. Dia menawarkan,'Kalau mau gabung (berlatih). enggak apa-apa kok, ini gratis.' Kelak saya tahu orang itu bernama Kuang Fe, murid dari Jember juga. Dia menarik saya ke dalam lapangan.

Sejak itu, saya setiap hari datang, mau hujan atau panas enggak peduli. Padahal, sudah diberi tahu kalau hujan enggak ada latihan, tapi saking inginnya bermain, saya tetap datang.

Ada atau enggak ada pelatih, saya latihan saja. Waktu awal-awal itu kan penasaran banget untuk bisa memasukkan bola. Ini bagaimana caranya. Sampai akhirnya mendapatkan pelatihan untuk shooting dan makin ketagihan. Setiap hari, saya, saat pulang sekolah, saya berlatih, enggak ada liburnya waktu sekolah. mulai pertengahan kelas 1 1998 lah, saya resmi berlatih dengan benar hehehe. Saya jatuh cinta dengan basket."

(fem/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed