detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 13 Mei 2020 17:15 WIB

Cara 'Kejam' Jordan Membentuk Mental Juara Chicago Bulls

Mohammad Resha Pratama - detikSport
18 Oct 1997:  Michael Jordan, left, Luc Longley, center, and Steve Kerr, right, of the Chicago Bulls watch the action from the bench between the Chicago Bulls and the Olympiakos during the McDonalds Championship at the Palais  Omnisports De Paris-Bercy in Paris, France.  The Bulls won the game 104-78. Mandatory Credit: John Gichigi  /Allsport Michael Jordan terkenal kejam dengan rekan-rekan setimnya (John Gichigi/Getty Images)
Chicago -

Chicago Bulls begitu digdaya di era Michael Jordan. Bukan hal mudah bagi Jordan untuk membentuk mental juara di tim tersebut, bahkan lewat caci-maki.

Jordan bersama Bulls mendominasi NBA di era 90-an. Ada total enam cincin NBA direbut Jordan selama dua periode memperkuat Bulls sebelum pensiun pada 1998.

Kehebatan Jordan dan Bulls saat itu membuat banyak orang tergila-gila dengan NBA. NBA meroket di dunia berkat kehebatan Jordan di bawah ring dengan segala aksi.

Tapi, Jordan tidak akan sehebat itu tanpa bantuan-bantuan rekannya seperti Scottie Pippen, Dennis Rodman, Toni Kukoc, Steve Kerr, Horace Grant, dan lainnya. Mereka semua yang menopang permainan Jordan di lapangan.



Mengimbangi Jordan tentu bukan hal mudah mengingat dia punya skill di atas rata-rata. Tak cuma itu, etos kerja dan mental juara yang membedakan Jordan dengan rekan-rekannya.

Maka itu, Jordan butuh kerja keras untuk bisa membuat para pemain setara dengannya. Dia bahkan tidak segan menghina rekan setimnya agar terpacu untuk bisa lebih baik.

Itu pula yang terjadi dalam sebuah sesi latihan ketika Jordan sampai bertengkar dengan Kerr yang notabene rekan setimnya. Bahkan ketika pemain "kelas dua" seperti Scott Burrell tak lepas dari tempaan Jordan.



"Juara itu ada harganya dan begitu juga kepemimpinan," ujar Jordan dalam episode ketujuh dokumenter bertajuk The Last Dance.

"Saya mendorong orang ketika mereka tidak punya semangat. Saya menantang orang-orang ketika mereka tidak ingin seperti itu," sambungnya.

"Saya berhak seperti itu karena rekan-rekan setim datang setelah saya. Mereka tidak merasakan kesulitan yang saya rasakan dulu."

"Ketika Anda bergabung dengan sebuah tim, maka level permainan Anda harus seperti saya, dan saya tidak mau di bawah itu," tutupnya.



Simak Video "Michael Jordan Sedih dan Marah akan Kematian George Floyd"
[Gambas:Video 20detik]
(mrp/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com