Pedagang kaki lima kritik FIFA

Pedagang kaki lima kritik FIFA

- Sport
Minggu, 13 Jun 2010 01:06 WIB
Indonesia - BBC - stadion Moses MabhidaStadion Moses Mabhida di Durban, dengan desain modern, merupakan salah satu tempat pertandingan Piala Dunia di Afrika Selatan.Nama stadion baru yang dibangun dengan biaya US$ 450 itu diambilkan dari nama aktivis antiaparteid dan pahlawan masyarakat miskin kulit hitam.Namun sejumlah kalangan di Afrika Selatan mengatakan kenangan terhadap Mabhida diinjak oleh mereka yang menggunakan stadion itu untuk mengusir mereka yang miskin."Seharusnya nama stadion itu adalah PW Botha -seorang penindas- dan bukan Moses Mabhida, tokoh kami. Ini penghinaan buat dia," kata Johanes Mzimela, yang mencari nafkah dengan menjual es krim.Peraturan yang diterapkan badan sepak bola dunia, FIFA kepada negara tuan rumah adalah tidak boleh ada penjual lain selain mitra dagang resmi yang diizinkan menjual produk mereka di arena stadion Piala Dunia.Clement Zulu, yang menjual es krim selama 25 tahun terakhir, menuduh polisi Durban dan penanggung jawab stadion tidak adil terhadap kalangan miskin."Pengusaha kaya yang tidak perlu uang, tidak seperti kami, justru diizinkan untuk berjualan di sini, mereka dapat membayar berapapun yang diperlukan untuk izin berjualan," katanya.

Yang miskin tambah miskin

Pedagang kaki limaPihak manapun yang bukan mitra resmi harus mengajukan izin kepada pemerintah kota untuk berdagang.Mereka yang melanggar ketentuan itu menghadapi hukuman penjara atau denda.Tuan rumah, FIFA dan panitia lokal wajib menentukan pembatasan tempat berdagang di seputar stadion dan di daerah penting selama turnamen bola ini.Manajer stadion menolak memberikan tanggapan terkait komentar pedagang kaki lima ini namun FIFA mengatakan mereka harus melindungi sponsor resmi dari "gangguan pemasaran" oleh mereka yang ingin mencari keuntungan dari turnamen bola ini tanpa harus membayar kewajiban.Namun banyak pedagang yang mengatakan mereka bahkan tidak tahu cara mengajukan izin."Ini semua hanya peringatan bahwa orang kaya akan tambah kaya dan orang miskin tambah miskin," kata penjual es krim Nhanhla Mkhize.Ia mengatakan harapannya bahwa Piala Dunia dapat membantu hidupnya, langsung pudar.

Penjahat

Jabulane NgubaneAfrika Selatan menghabiskan miliaran dolar untuk memperbaiki bandara-bandara, hotel dan stadion baru di sembilan kota tempat pertandingan berlangsung.Jabulane Ngubane, juga seorang pedagang kaki lima, mengatakan Piala Dunia mengancam kehidupan keluarganya."Polisi mengejar kami dari stadion seperti layaknya mengejar penjahat," kata Ngubane, yang menjual minuman.Ia tinggal di Pietermaritzburg dan bekerja di Durban. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 80 km dan pulang satu minggu sekali untuk menghidupi keluarganya.Ngubane memiliki 13 anak dan sebelum Piala Dunia ia menghasilkan sekitar Rp 300.000 sehari dari hasil berjualan.Akibatnya Ngubane kesal dengan penyelenggaraan turnamen bola dunia ini."Saya akan senang bila semua ini segera berakhir, atau polisi mengizinkan kami berjualan agar saya dapat memberi makan anak-anak saya," katanya. (bbc/bbc)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads