Hamilton mendapat penalti waktu di Spa sehingga kehilangan gelar juara di seri tersebut. Dari kontroversi itu muncul cibiran kalau FIA acap menganakemaskan Ferrari, yang kebetulan memetik keuntungan karena pembalapnya Felipe Massa lantas didapuk jadi juara.
Teori konspirasi kian berkembang setelah banding McLaren ditolak. Benarkah ada upaya-upaya politis untuk mengganjal Hamilton ke tahta juara dunia?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus diingat bahwa ini kelima kalinya dia sudah mendapat penalti tahun ini dan sejujurnya, empat hukuman dia yang sebelumnya tak diragukan keabsahannya," ungkap Jordan kepada Setanta yang dikutip Crash.
"Itu jelas jika Anda melihat situasinya saat dia menghadang seseorang (di kualifikasi). Dia membayar hukumannya. Jika Anda datang telat, Anda membayar denda. Di Montreal, dia menabrak mobil bagian belakang (Kimi) Raikkonen saat melewati lampu merah, jadi itu juga jelas," papar dia.
Serangkaian masalah itu, analisa Jordan, menunjukkan ada sesuatu yang kurang dalam diri Hamilton. "Kalau saya jadi bos timnya, saya akan memanggilnya dan bilang 'Lewis, kamu orang terbaik dalam mobil itu. Bersikaplah sangat tenang, percaya akan kemampuanmu sendiri tapi jangan melakukan hal-hal yang tak diperlukan'."
"Hamilton hebat tapi dia butuh sedikit kepercayaan di sana-sini dan memberikan sentuhan kerendahan hati dalam performanya," lugas Jordan.
(krs/a2s)










































