Meski mendapat pembelaan dari Ron Dennis dan beberapa pihak menyebut itu merupakan insiden biasa yang tak sepatutnya berbuntut sanksi, tapi Hamilton ternyata merasa menyesal dengan insiden tersebut.
"Saya berpikir kalau Singapura menjadi pelajaran sekaligus pengalaman berharga. Saya benci membalap demi mendapatkan poin, tapi kita semua melihat keuntungan melakukan pendekatan tersebut di saat seperti ini," ungkap Hamilton beberapa hari lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun di GP Jepang kemarin pelajaran tersebut sepertinya sudah dilupakan Hamilton. Di awal balapan saat kehilangan posisi terdepan yang diambil alih Kimi Raikkonen, dia seperti panas dan melakukan tindakan yang kemudian berbuntut jatuhnya drive-through penalty.
"Anda selalu bisa melihat ke belakang dan berharap bisa melakukan sesuatu hal yang berbeda. Saya membuat kesalahan dan saya membayar untuk hal itu. Peristiwa seperti ini bisa terjadi, Anda hanya harus tetap menegakkan kepala dan terus berjalan," ungkap Hamilton di ITV.
Kondisi seperti ini jelas membahayakan pembalap Inggris itu terkait upayanya menjadi juara dunia. Jika tak waspada, kisah dramatis seperti yang terjadi musim lalu bisa terluang tahun ini.
Ketika itu selepas GP Jepang Hamilton memiliki keunggulan 17 poin atas Kimi di posisi dua. Namun kesalahan fatal yang terjadi di GP Cina dan buruknya penampilan di GP Brasil membuat pemuda Inggris itu harus melupakan mimpi menjadi juara dunia di tahun debutnya.
Di akhir kompetisi Hamilton punya nilai 109, kalah satu angka dari Kimi yang mengumpulkan 110 poin.
Akankah kondisi tersebut berulang musim ini? Kalau Hamilton tak kunjung belajar dari kesalahannya, segala hal mungkin saja terjadi. (din/)











































