Upaya Hamilton menjadi juara dunia 2008 di sirkuit Interlagos pada akhir pekan ini sekaligus juga menandai 50 tahun berlalunya GP Moroko yang digelar pada 19 Oktober 1958.
Kala itu, Mike Hawthorn dengan Ferrari V6-nya memastikan diri jadi juara dunia F1 kendati hanya mengakhiri balapan di Moroko pada posisi dua. Inilah titel juara dunia pertama yang ditorehkan seorang pembalap Inggris.
Semenjak Hawthorn membukukan raihan tersebut, sejumlah pembalap Inggris lantas berhasil meraih titel juara dunia F1. Tapi tidak lagi semenjak keberhasilan Damon Hill pada tahun 1996.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan status debutan, pembalap McLaren itu tampil pede, menggebrak, bahkan mampu "mengganggu" para pembalap lain yang sudah lebih mapan. Rekan satu timnya saat itu, juara dunia dua kali Fernando Alonso, jadi salah satunya.
Di akhir musim perdananya itu, Hamilton menempati posisi dua di klasemen akhir, terpaut satu poin dari Kimi Raikkonen (Ferrari) sang juara dunia, dan setara dengan Alonso. Sama sekali bukan raihan buruk buat seorang rookie.
"(Tahun lalu) Saya ke Interlagos dengan pertarungan menuju titel masih terbuka dan semua emosi diri saya bergolak turun-naik. Itu masa-masa emosional karena tahu akan berakhir dengan sukses besar atau kekecewaan mendalam. Di tahun 2007 keadaan tak berakhir cukup baik buat saya, tapi saya toh masih menjalani musim perdana," kenang Hamilton.
Saat itu, di Interlagos, Hamilton memang harus kecewa. Manuver Felipe Massa bikin Hamilton terkendala walau start di posisi dua. Problem pada girboks yang dialami kemudian juga sama sekali tak meringankan jalan Hamilton. Akhirnya dia finis di posisi tujuh, dan harus mengucap selamat tinggal pada titel juara dunia yang sempat menggoda di depan mata.
Peluang untuk jadi yang terbaik kini kembali menghampar di Interlagos. Syaratnya pun relatif tak berat, Hamilton hanya perlu finis di posisi lima untuk "menebus" titel juara dunia 2008. Raihan poinnya pun cukup untuk menyungkurkan pesaing terdekatnya, Felipe Massa, yang jadi andalan Ferrari.
"Saya tak perlu memenangi balapan, tapi itu takkan menghentikan saya untuk menjalani akhir pekan ini sekompetitif mungkin. Shanghai adalah contoh yang baik untuk itu: kami mulai Jumat pagi dan tarus melaju. Tujuan kami bukanlah melaju terlalu bernafsu, tapi kami mendapati diri ada di depan dan meraih semuanya dari situ. Itu yang ingin saya ulangi di Brasil --akhir pekan yang lugas dan membuat saya bisa konsentrasi pada mobil dan membalap," lugas Hamilton seperti dikutip situs F1.
GP China, Shanghai, menjadi salah satu seri unjuk dominasi dari Hamilton. Pemuda 23 tahun tersebut membuat hat-trick dengan merengkuh pole, mencatat fastest lap, dan menjadi juara. Tapi kalau pada akhir pekan ini bagaimana, Hamilton? Bisa jadi juara dunia menuntaskan dahaga untuk Inggris, atau malah kembali kecewa?
(krs/a2s)











































