Keterkejutan Frentzen didasari pada dua aspek. Pertama, Honda punya sejarah panjang di dunia jet darat, dan kedua, keberadaan orang sehebat Ross Brawn ternyata tidak mendatangkan kebaikan buat tim asal Jepang itu.
"Ini kabar yang menyedihkan bahwa sebuah pabrikan lawas dengan banyak kemenangan di masa lalu telah memutuskan mundur. Tadinya saya pikir mereka akan menyerang lagi dengan Ross Brawn. Ini surprise yang besar," ujar mantan pembalap Sauber, Williams, Jordan, Prost, dan Arrows itu kepada autosport.com.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir F1 bukanlah salah satu pengeluaran terbesar Honda. Tapi dengan iklim ekonomi dunia saat ini, Anda memang harus berhemat," tukas juara dunia 1997 asal Kanada itu. "Saya pikir ini lebih merupakan keputusan politis."
Villeneuve juga menggarisbawahi performa Honda yang tak lagi kompetitif. Dalam dua musim terakhir, walaupun diperkuat pembalap top semacam Jenson Button dan Rubens Barrichello, mereka hanya bisa mendulang 18 poin dan tak pernah finish di atas peringkat delapan di klasemen konstruktor.
"Anda terkejut karena Anda tidak mengharapkan tim-tim meninggalkan F1. Tapi kalau Anda melihat hasil-hasil mereka dalam tahun-tahun terakhir, mereka bersusah payah. Dari luar, keputusan mundur ini masuk akal."
(a2s/a2s)











































