Imbas krisis eknomi global terhadap olahraga tim terlihat dari mundurnya beberapa tim di beberapa ajang. Kawasaki mengundurkan diri dari MotoGP, Subaru dan Suzuki mundur dari Reli Dunia, dan Honda berhenti dari Formula 1. Keadaan ini membuat prihatin Di Montezemolo.
Di Montezemolo memiliki resep agar F1 bisa bertahan dari badai krisis. Resep itu adalah kestabilitan (stability), keseriusan (seriousness), keindahan (spectacle), dan ketahanan (sustainability). Di Montezemolo menyebutnya sebagai
'Empat S'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keseriusan, karena kita harus mampu untuk menghadapi saat-saat sulit. Kita harus terus bersatu dan tetap rendah hati satu sama lain, tanpa harus menghapus kenyataan bahwa kita tetap bersaing."
"Keindahan berarti kita harus memperhatikan pada aspek tontonan. Rancangan sirkuit yang memungkinkan susul-menyusul, aturan yang baik, penggunaan teknologi seperti internet, dan juga hal-hal baru lain yang bisa digunakan untuk membuat balapan menjadi lebih baik."
"Yang terakhir adalah kemampuan untuk bertahan, karena tidak ada satu pun perusahaan yang bisa bertahan bila pendapatan lebih kecil dari pengeluaran," tutur pria kelahiran 1947 ini.
Untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkan kerjasama dari tiga pihak utama di F1. "Kami merasa bahwa F1 harus menjadi olahraga biasa yang tidak bergantung pada satu orang saja. Harus ada kerjasama segitiga antara para pelakunya."
"Pihak pertama adalah tim kontestan yang bertugas untuk melakukan investasi dan inovasi di setiap lombanya. Kedua adalah manajer komersial yang bertindak seperti agen, seperti yang sudah dilakukan Bernie Ecclestone. Yang terakhir adalah otoritas olahraga dan politik, yang melindungi olahraga ini dari payung hukum," tandas pria yang juga menjabat direktur Ferrari ini.
(roz/a2s)











































