Senna adalah salah satu pembalap yang tengah dibidik oleh Honda sebelum pabrikan asal Jepang itu menarik diri dari F1 Desember tahun lalu. Kini, Honda menunggu pembeli baru dan nama Senna tetap berada di barisan teratas kandidat pembalapnya.
Bila menemukan pembeli, Honda bakal bisa terjun di seri pembuka di Australia meski dengan konsekuensi mereka tak punya kesempatan melakukan tes. Hingga kini, belum ada kepastian tentang nasib Honda. Itu semua tak menghalangi Senna menuturkan mimpi-mimpinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimanapun, lebih baik berada di F1, bahkan bila harus di bawah kondisi sulit, daripada keluar. Berlomba semusim lagi di GP2 akan jadi sesuatu yang sia-sia," lanjut runner-up GP2 tahun lalu itu.
Senna, nama terbesar dalam dunia F1, mengakui bila bersama Honda nantinya akan jadi sesuatu yang sulit. Tetapi dengan berada di tim yang tak diperhitungkan, pemuda 25 tahun itu melihat bahwa tekanan yang mampir kepadanya tak akan besar.
"Tekanannya akan lebih sedikit dan saya akan beradaptasi dengan lebih cepat dan lebih mudah. Setidaknya, saya akan bilang saya kenal trek (Melbourne) dengan pernah membalap dan menang di sana dalam ajang F3 Australia," kata Senna.
Senna berkeras bahwa ia tak bisa lagi kehilangan peluang membalap di F1. Bagi keponakan Ayrton Senna itu, membalap dengan mobil yang tak kompetitif pun tak masalah.
"Untuk membalap di F1, yang harus Anda lakukan adalah merengkuh peluang itu dengan dua tangan, bahkan ketika itu tampak sangat sulit, karena Anda mungkin tak akan mendapat apapun lebih dari itu sesudahnya," yakin Senna.
(arp/roz)











































