Seperti diberitakan sebelumnya, kini ukuran seorang pembalap layak dinobatkan sebagai juara dunia adalah dia memenangi seri paling banyak di antara rival-rivalnya. Poin baru diperhitungkan bila ada dua atau lebih pembalap dengan koleksi juara seri sama.
Sistem ini menurut Ecclestone mirip dengan gagasan yang ia cuatkan sebelumnya, yakni sistem medali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ide ini adalah supaya para pembalap ya balapan. Jadi, kalau seseorang ada di posisi kedua, dia akan berusaha untuk menang, ketimbang berpikir bahwa kalau dia menang, dia cuma akan dapat tambahan dua poin. Itu bukanlah sebuah motivasi besar untuk melakukan sebuah usaha dan melewati orang lain."
"Untuk alasan apa mereka ingin menyalip kalau seseorang ada di depan dan seseorang di posisi kedua? Kenapa Anda ingin mengambil risiko untuk mencoba dan menyalip demi dua poin saja?"
Ecclestone juga menyinggung sedikitnya aksi susul-menyusul di kompetisi F1 dewasa ini. Ia menilai hal tersebut disebabkan mental pembalap dan sistem poin, serta disain mobil dan sirkuit.
"Saya pikir, pada akhirnya banyak yang bisa dilakukan para pembalap, dalam arti benar-benar membalap," tukasnya. "Kalau Anda nomor satu dan saya nomor dua, dan saya berpikir akan berisiko menyalip Anda, saya takkan ambil pusing."
Sebelumnya, pembalap tim Brawn GP, Jenson Button, membayangkan adanya potensi kebingungan di kalangan fans tentang sistem baru ini.
"Saya pikir publik akan berjuang untuk memahami mengapa seorang pembalap dengan nilai 60 bisa jadi juara dunia alih-alih pembalap lain yang punya 100 poin," cetus pembalap asal Inggris itu.
Menurut Anda?
(a2s/roz)










































