F1 vs Krisis Ekonomi

Jelang F1 2009

F1 vs Krisis Ekonomi

- Sport
Rabu, 25 Mar 2009 11:06 WIB
F1 vs Krisis Ekonomi
Jakarta - F1 mungkin tak pernah mengalami masa sesulit ini sebelumnya. Di tengah hantaman krisis ekonomi dan (akan) hengkangnya sponsor, adakah ini menjadi ancaman serius buat balapan jet darat itu?

Bernie Ecclestone beberapa kali menyatakan keyakinannya kalau pertunjukan F1 kepunyaannya tak akan banyak terpengaruh krisis ekonomi global. Namun jangan salahkan banyak pihak yang kemudian khawatir akan kelangsungan balapan tersebut menyusul keputusan hengkang yang dibuat Honda di penghujung tahun kemarin.

Kekhawatiran tersebut tak berhenti sampai di situ karena Toyota kemudian sempat santer diberitakan bakal ikut angkat kaki meski kemudian mereka menyatakan komitmennya. Yang kemudian makin membuat cemas adalah penarikan kesepakatan sponsorship yang dilakukan beberapa perusahaan (bank) dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BMW Sauber ditinggal Credit Suisse sementara ING menyatakan tak akan memperpanjang kontraknya bersama Renault yang akan habis di akhir musim ini. Bank RBS asal Inggris juga tak akan lagi menyokong Williams selepas kontraknya berakhir musim 2010.

F1 selama ini memang dikenal sebagai salah satu cabang olahraga dengan biaya produksi termahal. Bayangkan kalau sebuah wheel nut (baut penahan ban) bisa berharga US$ 1.200 atau sekitar Rp 14,1 juta (!). Beberapa tim bahkan memiliki pengeluaran tahunan hingga mencapai 300 juta poundsterling (sekitar RpΒ  5,2 triliun).

FIA jelas tidak berdiam dengan kondisi ini karena beberapa regulasi baru yang pada intinya bertujuan menekan pengeluaran tim diberlakukan untuk menghadapi musim 2009. Pembatasan penggunaan wind tunnel, larangan melakukan ujicoba di tengah musim, perpanjangan usia mesin hingga rencana pembatasan biaya adalah beberapa langkah yang telah diambil otoritas otomotif dunia itu untuk menyelamatkan F1.

Tapi dampak krisis tak cuma mengena tim yang berlaga di atas lintasan. Beberapa sirkuit juga terkena imbas yang sama dengan penurunan jumlah penonton serta berkurangnya sponsor menjadi masalah utama.

GP Belgia pada September 2008 lalu merugi US$ 4,9 juta dan cuma didatangi oleh sekitar 52.000 penonton. Padahal di musim sebelumnya jumlah penggila F1 yang datang ke Sirkuit Spa mencapai 62.000 orang lebih.

Kondisi serupa terjadi di Sepang yang menjadi seri F1 dengan harga tiket termurah -- harga terendah adalah US$ 31, bandingkan dengan harga rata-rata tiket di sirkuit lain yang mencapai US$ 150. Pihak panitian menargetkan kalau penurunan jumlah penonton musim ini "hanya" akan berada di kisaran 20%.

Dengan segala pembatasannya, F1 musim ini tetap dijanjikan bakal lebih sengit dibanding musim sebelumnya menyusul banyaknya perubahan regulasi yang memungkinkan tim-tim kecil lebih memiliki daya saing dengan Ferrari, McLaren serta Renault. Namun apapun dalihnya, krisis ekonomi yang terjadi telah banyak mengurangi keglamoran serta kemewahan F1.

BMW yang sebelumnya rutin mengelar pesta di grandstand miliknya sendiri lengkap dengan restoran dan lokasi yang mampu menampung 400 tamu di GP Australia terpaksa menghapus kebiasaan tersebut. Biaya pesta yang mencapai US$ 630.000 per tahun menjadi alasan yang masuk akal buat tim itu meniadakan private party-nya.

(din/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads