Isu-isu yang mengganggu persiapan GP pembuka F1 di Australia akhir pekan ini antara lain adalah penentuan juara dunia berdasar jumlah kemenangan, ancaman pemogokan hingga ke protes seputar legalitas mobil peserta.
FIA pekan lalu menerapkan aturan yang menyebut seorang juara dunia akan ditentukan dari jumlah kemenangan yang ia kumpulkan. Akibat protes dari banyak pihak, aturan itu ditarik dan jumlah poin tetap jadi acuan utama penentu yang terbaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang terakhir, ada sejumlah tim yang memprotes legalitas mobil tim lain. Ferrari, Renault, BMW Sauber dan Red Bull menuduh desain diffuser Brawn GP, Toyota dan Williams tak sesuai aturan. Meski protes itu sudah ditolak FIA, ada kemungkinan hasil lomba di Australia masih belum bisa disahkan hingga GP Malaysia pekan berikutnya.
"Saya tidak senang dengan situasi yang saat ini terjadi di Formula 1," tutur Massa mengomentari kondisi terbaru ajang jet darat kepada PA Sport yang dikutip Crash.
"Pekan ini kami punya berita ini dan pekan berikutnya semuanya berubah. Kita harus aturan yang konsisten dan cara kerja yang konsisten untuk membuat semua hal sedikit lebih serius," ulas pembalap Ferrari itu.
Massa secara pribadi menentang aturan jumlah juara seri yang sudah dicabut. Pembalap berpaspor Brasil itu lebih setuju dengan proposal pabrikan (FOTA) yang menginginkan juara pertama mendapat 12 poin dan runner-up-nya memperoleh 9 angka.
"Jujur, saat melihat proposal FOTA, saya menilai itu adalah yang terbaik. Tetapi kemudian FIA datang dengan cerita yang sama sekali berbeda dan itu menciptakan kekacauan," kata Massa.
"Tak ada yang menyukai sistem itu. Saya tahu bahwa pemenang GP memerlukan selisih yang lebih besar dari pertama ke kedua; tetapi bukan dalam hal kemenangan, ini dalam hal poin," tandas dia.
(arp/mrp)











































