Kemenangan Brawn GP di GP Australia dan Malaysia serta kejayaan Red Bull di GP China membuat berbeda balapan yang nyaris setiap tahun identik dengan Ferrari atau McLaren (dan kadang-kadang Renault).
Sukses Red Bull di China tidak bisa dilepaskan dari nama Adrian Newey. Dari tangan ahli desain jempolan inilah lahir mobil RB5 bermesin Renault yang mengantar Sebastian Vettel dan Mark Webber finis di posisi 1-2 di Shanghai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari tiga seri yang sudah dilalui, terlihat bahwa mereka yang bisa cepat beradaptasi dengan sejumlah perubahan aturan akan berhasil. Sementara mereka yang kurang bisa beradaptasi, meski punya sokongan sumber daya yang besar, akan tercecer.
"Kami mengerti tentang serangkaian perubahan aturan. Kami membuat mobil yang beradaptasi dengan baik sedari awal. Ini sangat memuaskan karena dengan aturan baru itu, kami bekerja sebagai satu tim selama sembilan bulan tanpa tahu bagaimana pekerjaan tim lain," ulasnya.
"Anda belum tahu bagaimana nilai produk Anda bila dibandingkan dengan tim lain karena semua titik-titik acuan serta garis dasarnya telah berubah," imbuh mantan arsitek mobil di Williams dan McLaren itu lagi.
"Dengan perubahan besar di regulasi, ini adalah sebuah peluang untuk tim dengan sumber daya yang lebih kecil, namun pintar dalam cara mereka berpikir tentang pengaruh perubahan aturan itu dan bagaimana menerapkannya. Mereka punya desain yang cerdas dan mobil yang bagus," ujar Newey.
Namun Newey berpendapat bahwa tim-tim kecil itu tidak bisa berjaya selamanya. Saat tim-tim besar sudah menyadari kesalahannya dan dengan kekuatan mereka sudah bisa beradaptasi, maka tim-tim raksasa itu akan bangkit.
"Saat regulasinya sudah stabil, maka tim dengan sumber daya yang lebih besar akan punya kemampuan lebih untuk mengevaluasi pilihan mereka dan mereka akan memiliki keunggulan," pungkasnya.
(arp/roz)











































