Sudah bukan rahasia lagi, Schumacher dengan Kimi bagaikan air dan minyak alias tak bisa disatukan. Sebuah hasil dari persaingan ketat yang terjadi antara keduanya pada musim 2003.
Saat itu Kimi yang masih memperkuat McLaren dan Schumi yang merupakan andalan Ferrari bertarung memperebutkan gelar juara dunia hingga seri terakhir di Jepang dengan hasil akhir Schumi yang bertahta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, keduanya harus menjadi rekan setim. Bayangan akan suasana dingin yang tercipta di pit Ferrari segera menyeruak. Tapi rupanya Kimi tak mempermasalahkan kembalinya Schumi.
"Bagiku, siapa yang mengemudikan mobil kedua tak ada bedanya," ujar Kimi di Autosport. "Saya pikir dia juga belum 100 persen yakin bisa berlomba karena dia masih memeriksa banyak hal."
Ungkapan Kimi di atas mencerminkan keyakinannya bahwa Ferrari akan mengedepankan dirinya di sisa musim ini. Koleksi 18 poin yang sudah dikumpulkan pembalap Finlandia itu jelas lebih pantas diperjuangkan ketimbang Schumi yang masih nihil dengan hanya tujuh seri tersisa.
Tapi Kimi harus hati-hati. Ferrari sangat menghormati Schumacher. Bila dalam satu atau dua balapan ke depan Schumi bisa memperlihatkan penampilan yang lebih baik dari dia, pembalap 29 tahun itu harus siap dinomorduakan.
Tahun lalu, Kimi sudah merasakan pahitnya menjadi pembalap tim untuk menyokong rekan. Meski berstatus juara dunia, Kimi harus rela bertarung demi Felipe Massa yang lebih berpeluang jadi juara dunia.
Kimi harus benar-benar memperlihatkan determinasinya untuk tampil baik dari satu balapan ke balapan yang lain. Schumi memang rekan setim, tapi ia justru jadi 'lawan' sesungguhnya buat Kimi.
"Akan menyenangkan menjadi rekan setimnya. Ini sudah hampir terjadi sebelumnya," komentar Kimi singkat dengan gaya khasnya, dingin.
(arp/arp)










































