Dalam balapan yang dipenuhi sejumlah insiden sedari awal, Webber berhasil keluar jadi pembalap yang paling pertama melintasi garis finis. Gegap gempita sendiri lebih tersita ke Jenson Button yang, meski hanya finis di posisi lima, berhasil memastikan gelar juara dunia.
Β
Oleh karena itu mungkin tak banyak yang ngeh dengan piala yang kurang lazim yang diterima oleh Webber. Ada kisah khusus mengenai trofi itu, yang ketidaklazimannya bukan hanya menyoal warnanya saja.
Alih-alih menggunakan bahan yang umum digunakan seperti emas atau perak, pimpinan sirkuit Interlagos seperti berniat memamerkan laboratorium daur ulang yang baru dibangun di wilayah sirkuit tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka melebur seluruh sampah tutup botol yang dikumpulkan dan membentuknya seperti benang-benang mie. Bekas tutup botol itu lantas dipampatkan menjadi bentuk besar plastik yang lantas dipotong sesuai bentuk piala.
"F1 melambangkan teknologi dan inovasi dan merupakan tempat tepat untuk mendemonstrasikan nilai sosial dari mendaur ulang plastik," kata Nicolai Duboc, teknisi Braskem yang bertugas atas proyek tersebut, seperti dikutip Autosport.
Β
Langkah hijau ini sendiri sudah dilakukan GP Brasil tahun lalu dengan membuat piala dari bahan plastik yang 100% dapat didaur ulang atau ramah lingkungan. Namun, baru kali ini bahan untuk piala itu berasal dari pemanfaatan langsung sampah.
Trofi untuk Webber disebutkan memiliki panjang sekitar 50 cm dengan berat sekitar 3,5 kilogram. Cukup berat dan entah berapa tutup botol yang dibutuhkan untuk menghasilkannya.
(krs/din)











































