Button mengawali musim dengan sangat bagus, yakni menjuarai enam dari tujuh seri pertama. Namanya langsung melejit sebagai unggulan teratas jadi juara dunia.
Tapi perjuangan Button ternyata menemui jalan bergelombang. Di delapan balapan berikutnya, pembalap 29 tahun itu selalu gagal juara dan prestasi terbaiknya cuma finis kedua. Satu balapan tidak bisa ia rampungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anda pasti tak mau memperlihatkan ketakutan Anda kan?" ujar Button kepada News of the World yang dikutip Crash.
"Itu adalah kelemahan dan Anda harus menyimpannya. Musim kompetisi ini berjalan 10 bulan, dan selama itu saya benar-benar stres. Tidur dengan membawa pikiran, bangun pun masih kepikiran," papar Button.
"Saya jadi kurang tidur, dan saat saya mulai kualifikasi, banyak hal berkelebat di benak. Saat saya mulai khawatir, saya biasanya meminta orang-orang di sekitar memahaminya," katanya.
Beruntung buat Button, ia berhasil mengunci gelar juara dunia di dua GP terakhir, meski ia hanya finis kelima di GP Brasil. Alhasil, Button pun jadi orang Inggris ke-10 yang sukses merajai F1.
"Saya banyak bicara dengan Ross Brawn. Kami mendiskusikan bagaimana Michael Schumacher berjuang untuk gelarnya. Menyenangkan mendengar pendapat Ross," ungkap dia.
"Dia tahu, F1 tak pernah mudah, bahkan bila kita punya mobil yang superior. Anda bisa jadi seseorang yang selalu positif, tapi tetap saja Anda punya kelemahan dan keraguan," tutup Button.
(arp/key)











































