Hamilton adalah pemuja Ayrton Senna, sementara Button lebih menyukai rival beratnya, Alain Prost. Dua pembalap legendaris itu kebetulan pernah bersama-sama di McLaren.
Dengan status rekan setim, Senna-Prost justru acap terlibat duel-duel sengit. Pada GP Jepang 1989 dan 1990, mobil keduanya bahkan bersinggungan karena panasnya persaingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anda tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam semusim, tapi yang harus kami lakukan adalah bekerja bersama dan bertarung di sirkuit. Kami akan jadi rival berat. Kami berdua paham itu," tegas Button di Mirror.
"Tentu saja kami akan jadi rival sengit, kami ada di sini untuk menag dan rekanmu adalah orang yang sama mobilnya dengan dirimu. Kami cukup berbeda dengan dua orang itu (Senna dan Prost), walau anehnya warna helm kami sama," lanjut Button.
Persaingan di lintasan itu boleh jadi takkan terlalu panas jika Button dan Hamilton hanya bertarung untuk posisi di luar lima besar. Tapi jika untuk posisi teratas, siap-siap saja situasi jadi memanas.
"Kalau kami berebut posisi enam atau tujuh, pada nyatanya, siapa yang peduli? Jika kami bertarung untuk posisi itu, itulah yang dihitung. Dan satu-satunya cara kami akan bertarung adalah pertama-tama adalah jika kami bekerja bersama-sama," tandas Button.
(krs/key)











































