Harapan itu telah lama menggantung, bahkan sejak saya kecil pun ditiup-tiupkan melalui media masa, namun hingga kini masih sebatas impian.
Sebagai negara besar, atau terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memang sudah selayaknya dapat menggelar balap paling bergengsi tingkat internasional itu. Dampak ikutan dari kegiatan akbar ini sudah bisa ditebak dan tidak perlu disangkal, mulai uang yang mengalir hingga public relations yang manis. Namun semua itu memerlukan yang namanya aneka kesiapan yang berstandar internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka pastilah tahu betul bahwa perhelatan F1 di pinggir jalan tol menuju bandara internasional itu akan ditonton oleh jutaan mata hampir setiap dua minggu di hampir semua negara dunia. Jutaan mulut juga akan mengucap negara tetangga itu sambil memperbicangkan keunikan sirkuit, ibukotanya hingga tempat lain yang bisa dikunjungi. Semua akhirnya jadi tahu ada sebuah negara yang namanya Malaysia dan kemudian berduyun-duyun para pelancong asing berdatangan. Investasi jutaan dolar akan menghasilkan jutaan dolar juga bila dikelola dengan baik.
Kesadaran itulah yang kemudian menular ke tetangga. Pertama adalah China. Ia segera membuat sirkuit yang berbeda dari lainnya di Sanghai dan melakukan publikasi dengan gencar dari waktu ke waktu. Seperti juga Indonesia, mereka minta ditinjau setelah mempersiapkan diri dengan baik. Dan, hasilnya semua kagum dengan sirkuit di negeri Tirai Bambu itu.
Singapura rupanya panas hati juga. Dengan kecerdikannya, mereka membuat sesuatu yang belum ada sebelumnya. Sebuah preseden. Jiran kita yang satu ini cukup memoles jalanan dan menyelenggarakan hajatan F1 di malam hari. Ide ini bisa jadi muncul dari sirkuit jalan di Monaco yang menebar pesona meskipun sangat sulit bagi pembalap untuk menyalip lawannya akibat jalan yang sempit.
Daya tarik F1 memang belum pudar sampai saat ini. Terlihat makin banyaknya negara yang ingin menjadi host balapan jet darat termahal di dunia tersebut. Bahkan, tim peserta balap juga cenderung makin banyak. Isu bubarnya F1 tahun lalu masih berupa isapan jempol semata.
Nah, di mana Indonesia sebagai salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia? Duh, ini yang menjadi beban. Tidak apa-apa sih sebagai negara besar tidak menyelenggarakan F1. Istilah Pak Harto, ngga pateken. Tapi, kalau mau meraih PR (public relations) yang besar dan memancing ikan kakap, F1 tidak salah menjadi salah satu targetnya. Rasanya, sudah sejak lama kita mempersiapkan diri, namun kenyataannya sampai saat ini masih berupa mimpi dan sebatas omong-omong di media cetak dan elektronik. Tanpa persiapan yang serius, maka jangan harap Indonesia akan menghelat F1 dalam satu dekade ke depan, seperti kata Jean Todt ketika meninjau Sentul belum lama ini.
Jujur saja, untuk menjadi host F1 diperlukan dana yang tidak sedikit. Harus ada investor yang mau menggelontorkan uangnya untuk membuat sirkuit yang berstandar internasional dalam arti yang sebenarnya. Harus dibangun infrastruktur yang memadai menuju tempat pertandingan. Bahkan rumah sakit juga hal yang penting. Soal keamanan juga harus menjadi perhatian yang sangat serius. Selain itu perlu disadari, F1 tidak lain adalah sebuah kegiatan usaha yang bila mau "nanggap" mesti membayar dengan uang yang tidak sedikit. Semua itu dapat dirangkum dalam satu kata: manajemen.
Maklum, kegiatan ini bukanlah layar tancap yang bisa dilakukan di kebon atau lapangan mana saja. Mereka yang datang juga menggelontorkan dana dalam jumlah yang berjibun. Konon kabarnya, tim Ferrari biasa mengeluarkan dana sekitar 30 juta dolar untuk sekali pertandingan, sedangkan tim paling miskin harus merogoh saku setidaknya 7 juta dolar. Bukan itu saja, para pembalap tahun ini terdiri dari empat juara dunia mulai Michael Schumacher hingga Jenson Button digaji miliaran rupiah. Mereka semua adalah orang-orang yang sangat berharga dan harus mendapatkan perlindungan ekstra.
Rupanya kunjungan Jean Todt malah membuat saya lemas. Apa yang dia sampaikan ke media masa dan dikutip di berbagai negara, memunculkan sebuah kenyataan pahit. Indonesia memang belum siap menuju ke sana. Bahkan modal dasarpun belum punya. "If you want to make the F1 race you need a standard circuit. At the moment you do not have one of that standard,"Β ujar Todt.
Tentu apa yang disampaikan perlu dicermati bersama. Todt bukanlah orang sembarangan. Dia sudah puluhan tahun malang melintang di dunia F1. Di tangan dia juga Ferrari dan Michael Schumacher merebut lima gelar juara dunia, sesuatu yang belum pernah terjadi di dunia ini. Kini dengan jabatan barunya sebagai Presiden Federasi Motor Internasional, ucapannya bagaikan sabda seorang raja.
Nah semua kini tergantung pada kita. Akankah kita terus menerus tidak memiliki sirkuit yang memadai dan tidak sungguh-sungguh ingin menjadi tuan rumah balapan internasional F1? Keputusan pemerintah sangat ditunggu dan keikutsertaan swasta tidak bisa dinafikan. Saya hanya mengingatkan saja, tahun ini Malaysia bukan hanya memiliki sirkuit yang menjadi buah bibir dunia, namun sudah mengoperasikan satu tim F1 yang dikendalikan dari Kuala Lumpur. Bagaimana dengan kita?
--
* Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mencerminkan sikap redaksi.
*Penulis adalah WNI penggemar F1 yang tinggal di Moskow, Rusia (a2s/a2s)











































