Masalah itu terjadi usai duo Ferrari kedapatan melakukan team order dalam GP Jerman akhir pekan kemarin. Tim asal Italia itu selanjutnya didenda Rp 903 juta.
Sanksi berupa denda sudah dijatuhkan dan diterima Ferrari. Namun polemik soal "strategi" ini dan juga kecaman terhadap tim Kuda Jingkrak tak berhenti. Bahkan bos Ferrari meminta agar mereka yang mengkritik team order untuk tak bersikap munafik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak yakin dengan sikap-sikap hipokrit soal team order yang terdengar selama ini," ulas pria yang kini menjadi konsultan dari tim Red Bull itu.
Sementara itu chairman Prodrive David Richards mengatakan bahwa perlu adanya diskusi terbuka soal perlu atau tidaknya team order dilegalkan.
"Kami harus mengkomunikasikan hal ini secara terbuka dan langsung. Bila ini didiskusikan secara terbuka publik bisa paham tentang kerjasama tim di F1, di mana ada dua mobil di setiap tim, dan kejadian ini bakal dinilai fair," tandas Richards seperti dikutip dari Reuters.
"Kita lihat di (balap sepeda) Tour de France misalnya, di mana pembalap yang jadi juara mendapat pertolongan dari rekan satu timnya," ujar mantan bos tim Benetton dan BAR tersebut.
"Wajar bila team order mengundang banyak pendapat karena ini juga terjadi di banyak cabang olahraga. Saya sangat paham bila aturan team order ini harus diganti dan kemungkinan besar ada banyak hal sensitif yang harus jadi pertimbangan sebelum memutuskan," kata Richards.
Sementara bos F1 Bernie Ecclestone menilai bahwa keputusan keputusan penggunaan team order merupakan hak setiap tim dan tidak ada pihak luar yang boleh untuk ikut campur.
(nar/krs)











































