Pada 24 Oktober ini, Sirkuit Internasional Korea di Yeongnam akan menjadi tempat terciptanya sejarah penyelenggaran lomba F1. Korsel menyusul dua negara Asia Timur lainnya, Jepang dan China, yang sudah menjadi tuan rumah F1.
Kehadiran GP Korea banyak dianggap sebagai kesempatan bagus buat para produsen mobil 'Negeri Ginseng' itu. Produk-produk Korsel yang dikenal terjangkau bisa 'naik kelas' ke segmen premium bila turut serta di F1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Hyundai Motor Group, salah satu produsen mobil Korsel, mengaku tidak tertarik membuat tim F1. Ini berbeda dengan politik mereka di sepakbola di mana KIA, salah satu anak perusahaan Hyundai, menjadi sponsor di Piala Dunia.
"Grand Prix (F1) bisa jadi gerbang masuk untuk menjadikan brand mobil kami jadi brand premium, tapi Hyundai tidak tertarik masuk ke F1," ujar seorang orang dalam Hyundai kepada Reuters.
Pengalaman Toyota dan Honda yang dipaksa mundur dari F1 karena terus merugi membuat Hyundai gamang.
"Selain itu, juga butuh investasi jangka panjang yang berjalan bertahun-tahun dan kami ragu Hyundai punya kesabaran seperti itu," demikian ujar sang sumber.
Mundurnya Toyota dan Honda telah membuat F1 tidak punya tim atau pemasok mesin dari Asia. Saat ini, F1 didominasi oleh produsen mobil Eropa seperti Renault, Ferrari dan Mercedes.
Foto: Direktur Teknik FIA, Charlie Whitting (tengah), sedang menginspeksi kesiapan Sirkuit Internasional Korea, 11 Oktober lalu. (AFP/LEE MYUNG-JAE)
(arp/mrp)











































