Usai GP Korea akhir pekan lalu, Red Bull kehilangan posisi teratas klasemen pembalap yang tadinya dikuasai Webber. Kini, singgasana dipunyai pembalap Ferrari, Fernando Alonso dengan nilai 231 angka, sedangkan Webber turun ke posisi dua dengan 220 poin dan Vettel jadi keempat (206 angka).
Hal itu tidak lepas dari ketidakberuntungan yang menimpa Red Bull di Korea. Webber out saat lomba baru berusia 18 lap karena kecelakaan, sementara mesin Vettel jebol di menit 45.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami punya dua pembalap fantastis dan kami akan terus menyokong mereka secara adil sejalan dengan etika olahraga Red Bull yang luar biasa," kata prinsipal Red Bull, Christian Horner, seperti dikutip Autosport.
Red Bull beralasan, jalannya sebuah balapan kadang tidak bisa diprediksi. Karenanya, tetap memberi kesempatan yang setara untuk kedua pembalap adalah jalan terbaik menyikapinya.
"Seperti kita lihat di Korea, mustahil untuk memprediksi apa yang akan terjadi dengan lima pembalap yang bersaing ketat untuk jadi juara. Sebagai contoh, sisa 10 lap Sebastian sedang memimpin klasemen tapi karena nasib sial kami Alonso jadi yang memimpin," urai Horner.
"Itu menunjukkan, situasi bisa berubah dengan sangat cepat. Tentu saja, karena kita sedang mendekati akhir musim, perhitungan matematisnya akan bicara dan saya yakin kedua pembalap akan melakukan semua yang mungkin untuk mencapai hasil terbaik buat tim," tutup dia.
(arp/key)











































