Sejarah Penentuan Gelar di Seri Pamungkas

Jelang GP Abu Dhabi

Sejarah Penentuan Gelar di Seri Pamungkas

- Sport
Selasa, 09 Nov 2010 14:40 WIB
Sejarah Penentuan Gelar di Seri Pamungkas
Jakarta - Ada empat pembalap berpeluang jadi juara F1 2010 saat balapan menyisakan satu seri. Faktanya, sepanjang sejarah F1 ini bukan kali pertama seri pamungkas menjadi penentu siapa sang juara dunia.

Dikutip dari CNN, penentuan gelar juara dunia di seri terakhir bukan kali ini saja terjadi. Namun, sejarah panjang balapan jet darat itu mencatat kalau ini adalah untuk kali pertama ada empat pembalap ikut memperebutkan titel hingga balapan terakhir digelar.

Fernando Alonso sementara memimpin dengan 246 poin yang sudah didapat. Berturut di belakangnyaΒ  adalah Mark Webber (238),Β  Sebastian Vettel (231) dan Lewis Hamilton (222).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut beberapa moment paling dikenang saat penentuan juara F1 harus dilakukan di seri terakhir:

Musim 1994 (GP Australia; MICHAEL SCHUMACHER vs Damon Hill)

Persaingan ketat terjadi antara Damon Hill dan Michael Scumacher, di mana saat memasuki seri terakhir sang pembalap Jerman masih unggul satu poin dari lawannya yang asal Inggris. Balapan ini dianggap sebagai salah satu yang paling kontroversial terkait insiden yang melibatkan Hill dengan Schumacher.

Setelah sempat tertinggal dari Schumacher, di tengah balapan Hill mampu mendekatkan jaraknya dan melakukan manuver untuk menyalip Schumi. Hill sepertinya akan berhasil mendahului Schumi saat tiba-tiba mobilnya terlihat sengaja ditabrak oleh Schumacher. Mobil milik Schumi langsung out, sementara tunggangan Hill masih sanggup melaju.

Meski sempat masuk ke pit dan berusaha melakukan beberapa perbaikan, Hill tak bisa masuk kembali ke lintasan. Hill pun kalah dalam perebutan gelar juara dunia karena poinnya yang 91 kalah atas Schumi yang mengoleksi 92 angka.

Musim 1997 (GP Eropa JACQUES VILLENEUVE vs Michael Schumacher)

Sama seperti musim 1994, Schumi memasuki seri terakhir dengan keunggulan satu angka atas Villeneuve (78:77). Meski punya catatan waktu yang sama di sesi kualifikasi, Villeneuve berhak mendapat pole position karena menjadi pembalap pertama yang melakukannya.

Di awal balapan Schumacher langsung mampu mendahului seterunya itu. Puncak dari balapan dan perebutan gelar juara terjadi di lap 48, saat Villeneuve punya kesempatan merebut kembali posisinya. Pembalap asal Kanada itu mengerem lebih lambat di tikungan Dry Sac dan masuk dari sisi dalam untuk akhirnya bisa berada di depan Schumacher.

Namun kejadian seperti tahun 1994 terulang, Schumi menabrakkan mobilnya ke arah sidepod Villeneuve . Kali ini upaya Schumi tak 100% berhasil karena cuma dia sendiri yang out sementara Villeneuve bisa finis ketiga dan mengamankan gelar juara. Belakangan Schumi dianggap bersalah oleh FIA dan kemudian didiskualifikasi.

Klasemen akhir musim menempatkan VilleneuveΒ  di posisi teratas dengan 81 poin. Sementara Schumi didiskualifikasi.

Musim 1998 (GP Jepang; MIKA HAKKINEN v Michael Schumacher)

Memasuki seri terakhir yang digelar di Jepang, Mika Hakkinen unggul dua poin atas Michael Schumacher (90: 88). Persaingan antara keduanya terlihat akan berjalan sengit karena Schumi mampu merebut pole dengan Mika harus puas start di posisi dua.

Namun bencana buat Schumi datang saat mobilnya bermasalah justru saat start. Dia kemudian memulai balapan dari pit dan bisa terus naik ke hingga berada di posisi tiga. Namun pembalap Jerman itu harus memupus mimpinya jadi juara dunia karena masalah pada Ferrarinya di lap 31.

Di akhir musim Mika jadi juara dengan poin 100. Schumi duduk di posisi dua dengan poin 88.

Musim 2007 (GP Brasil; KIMI RAIKKONEN vs Lewis Hamilton vs Fernando Alonso)

Untuk kali pertama sejak tahun 1986 ada tiga pembalap berpeluang jadi juara di seri pamungkas. Berangkat ke Brasil, Hamilton unggul empat angka atas Alonso dan memimpin tujuh poin di atas Raikkonen.

Hamilton sesungguhnya berpeluang meraih gelar juara dunia di musim debutnya setelah dia dapat posisi start kedua, di belakang Felippe Massa. Namun pembalap Inggris itu memulai balapan dengan sangat lambat dan tak butuh waktu lama untuk bisa disalip Raikkonen dan Alonso.

Nasib nahas Hamilton bertambah saat dia melebar dalam upaya menyalip Alonso, untuk kemudian mengalami masalah girboks. Di posisi terdepan, Massa melambatkan mobilnya untuk memberi Kimi jalan menuju gelar juara. Hamilton cuma finis ketujuh dalam balapan tersebut, sementara Alonso naik ke podium tiga

Klasemen akhir menempatkan Kimi di posisi teratas (110 poin), diikuti Hamilton (109) dan Fernando Alonso (109) di urutan tiga.

Musim 2008 (GP Brasil; LEWIS HAMILTON vs Felipe Massa)

Ini mungkin balapan penentuan juara yang paling seru sepanjang sejarah F1. Hamilton baru memastikan diraihnya gelar juara tepat di tikungan terakhir Interlagos, untuk mengalahkan Felipe Massa yang jadi pesaing setianya hampir sepanjang musim.

Hamilton datang ke Brasil dengan poin 94, unggul tujuh angka atas Massa di belakangnya. Keberhasilan Massa meraih pole membuat pesaingan antara keduanya berjalan menegangkan sepanjang 71 lap.

Hamilton yang dapat posisi start keempat sempat merosot ke posisi enam jelang berakhirnya balapan. Kubu Ferrari bahkan sempat merayakan sukses Massa menjadi juara dunia begitu pembalap Brasil itu menyentuh garis finis.

Namun di tikungan terakhir menuju garis finis, Hamilton bisa mendahului Timo Glock, yang bermasalah dengan grip karena hujan yang turun, untuk finis di posisi lima. Tempat paling akhir di mana dia bisa mengamankan gelar juara dunia.

Hamilton jadi juara dunia dengan poin 98. Massa duduk di posisi dua dengan 97 poin.
(din/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads