Datang ke seri terakhir, GP Abu Dhabi, sebagai pemimpin klasemen, Alonso harus gigit jari karena ia cuma finis ketujuh dan gelar jawara sejagat direngkuh oleh Sebastian Vettel.
Kegagalan tersebut sudah berlalu dua pekan dan kehidupan Alonso pun sudah berlanjut, terbukti ia sudah sempat menjalani tes Pirelli di Abu Dhabi. Namun rasa pahit itu masih membekas di lidah juara dunia 2005 dan 2006 itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alonso mengibaratkan kegagalan Ferrari seperti yang dialami oleh timnas sepakbola Belanda yang gagal di final Piala Dunia 2010 lalu. Datang sebagai tim non-unggulan, Belanda maju ke final tetapi kalah dari Spanyol di laga puncak.
Demikian juga dengan Ferrari. The Prancing Horse yang hancur-hancuran di musim 2009 tidak terlalu diunggulkan akan mampu bersaing, toh nyatanya tim Italia itu sanggup bertarung hingga seri terakhir walau hasil akhirnya nihil.
"Saya pikir ini sama dengan yang dialami pemain Belanda usai kalah di final Piala Dunia Juli lalu; setelah beberapa pekan, mereka menyadari kalau kami telah mencapai sesuatu, di saat tim-tim lain bahkan tidak bisa sedekat itu (dengan gelar)," kata Alonso.
"Sama juga dengan kami. Kemenangan pamungkas lepas dari kami, tapi bagaimanapun kami sudah mengalami musim yang hebat, dengan perjuangan hebat di paruh kedua musim," tuntas dia.
(arp/rin)











































