Tidak mulusnya hubungan itu terlihat mulai naik ke permukaan di GP Turki, 30 Mei lalu. Saat itu, Webber bersenggolan dengan rekan setimnya, Sebastian Vettel. Ujungnya, Vettel gagal finis dan Webber masih bisa finis ketiga.
Konflik itu menajam di GP Inggris, 11 Juli. Webber marah ke Red Bull akibat memasang sayap depan mobilnya buat Vettel. Saat Webber menjuarai lomba, ia berucap di radio, "Tidak buruk untuk seorang pembalap kedua."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sebenarnya tidak pernah berpikir untuk pergi ke tim lain," elak Webber dalam wawancara dengan BBC Radio 5 Live.
Webber sempat beberapa waktu unggul dari Vettel di klasemen pembalap, bahkan hingga sebelum balapan terakhir di Abu Dhabi. Namun Red Bull tetap enggan mengutamakan Webber dan, seperti sikap mereka sejak awal musim, membiarkan dua pembalapnya bertarung bebas. Hasil akhirnya, seperti kita tahu, Vettel-lah yang keluar sebagai kampiun sejagat.
"Saya tahu saya harus merampungkan urusan saya di sana. Seperti sudah saya bilang beberapa kali, saya dan tim belajar banyak tahun ini mengenai bagaimana caranya membalap secara konsisten dalam level tersebut," pungkas pembalap 34 tahun itu.
(arp/din)











































