Preview GP Monaco
Neraka di Dalam Surga
Rabu, 19 Mei 2004 16:12 WIB
Jakarta - Bagi komunitas Formula 1 Monaco itu bak surga. Semua unsur pesta meriah ada di sini. Orang-orang kaya suka sekali membuang-buang uangnya di sini, entah di kapal-kapal pesiar, kasino, atau βsekadarβ hotel mewah berbintang 4 ke atas. Mungkin itu sebabnya keberadaan Monaco dalam kalendar grand prix Formula 1 awet-awet saja β ke depan juga tampaknya demikian. Dengan tahun ini, sudah 51 kali kebut-kebutan jet darat itu berlangsung di sini, di Monte Carlo. Terang saja, otoritas F1 yang dikendalikan Bernie Ecclestone bisa meraup untung besar di negara mini ini, karena uang bisa mengalir deras. Para sponsor antusias memamerkan produk-produknya lantaran ini adalah ladangnya orang berduit.Entah ini kandangnya siapa pula. Olivier Panis memang satu-satunya pembalap yang berbahasa Prancis, bahasa resmi negeri kerajaan ini. Tapi selain dirinya, David Coulthard, Cristiano da Matta, dan Ralf Schumacher juga punya rumah megah di sini. Dari kondisi βalamnyaβ GP Monaco memang menawarkan tontonan menarik. Di sana orang tidak cuma menonton dari tribun balapan, melainkan juga dari jendela-jendela hotel atau dari atas yacht di pinggiran pantai. Penikmatnya pun beragam: dari yang berjas lengkap sampai yang cuma bertelanjang dada maupun berbikini-ria. Para pembalap, jika sedang berada di luar kokpit pasti tak mau menyia-nyiakan kesempatan ber-dugem ria. Namun, jika sudah mendekam di balik kemudi, aroma βsurgaβ bisa berubah drastis. Seperti ada neraka di dalam surga alias hell in paradise. Mereka sadar bahwa Monaco merupakan salah satu sirkuit yang palling tidak gampang ditaklukkan, terutama bagi mereka yang persiapannya pas-pasan. Sempitnya trek yang sehari-harinya dipakai sebagai jalanan umum itu membuat kesempatan menyalip lawan cukup kecil. Alhasil, kalau tidak ada insiden, biasanya jalannya GP Monaco berjalan membosankan karena urutan pembalap umumnya βhanyaβ mengandalkan pada kecepatan dan strategi di pit stop maupun daya tahan kendaraan.Jadi, yang sangat perlu ditunggu adalah hasil di sesi kualifikasi. Siapa yang menempati posisi start terdepan, mereka lebih berpeluang sukses. Selain Ferrari, tim yang belakangan punya rapor bagus di sesi kualifikasi musim ini adalah BAR Honda, Williams, dan Renault.Memang ada faktor lain yang turut mempengaruhi, yakni konsentrasi dan ban. Setiap pembalap sedikitpun tidak boleh meleng. Trek yang sempit tentu akan semakin sesak dengan kehadiran 20 mobil cepat itu. Kesalahan secuil saja bisa berakibat fatal karena jarak tembok pembatas ataupun dengan mobil lain tidak cukup lebar. βDi sini, kami harus berkonsentrasi lebih dari 100 persen,β cetus Jarno Trulli, andalan tim Renault.Soal ban, Michelin boleh berjaya tahun lalu. Karakter ban keluaran Prancis ini diuntungkan karena rotasi ban tidak berlebihan lantaran sirkuit ini kaya tikungan (18 buah, termasuk sebuah belokan hampir 360 derajat yang menanjak pula). Dari tujuh pembalap yang finish terdepan, hanya Schumi yang saat itu memakai ban Bridgestone, itupun di podium ketiga.Tapi itu satu tahun silam, ketika persaingan sedang bagus-bagusnya. Sekarang, Ferrari semakin komplet. Hampir di semua kondisi F2004, Schumi dan Rubens Barrichello, dan Bridgestone baik-baik saja. Jadi, tugas berat bagi Juan Pablo Montoya (juara musim lalu), untuk menghambat Schumi di sirkuit yang spesial ini. Demikian pula dengan para pesaing yang lain. Pasalnya, jika Schumi menang lagi, maka GP Formula 1 semakin dekat ke βnerakaβ, karena tak perlu menunggu lagi siapa yang akan menyandang gelar juara dunia 2004. (a2s/)











































