Ecclestone Berat Lepas Melbourne

Ecclestone Berat Lepas Melbourne

- Sport
Rabu, 16 Mar 2011 19:35 WIB
Melbourne - Lomba jet darat Formula 1 di "Negeri Kangguru" Australia tampaknya tinggal lima kali lagi. Bos F1 Bernie Ecclestone mengaku berat melepas balapan di Melbourne jika memang ongkosnya terlalu mahal.

Di dalam negeri keberadaan GP Australia mulai dipertanyakan karena secara finansial tidak menguntungkan, bahkan merugi. Itu sebabnya sedang diwacanakan opsi tidak memperpanjang kontrak setelah habis di tahun 2015.

Menanggapi hal tersebut Ecclestone mengaku menyesal jika GP Australia menghilang. Namun, jika itu dianggap yang terbaik oleh penyelenggara setempat, ia pun tak bisa berbuat apa-apa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Australia penting buat kami, seperti halnya Monaco," ujar Ecclestone dari London dalam sebuah konferensi jarak jauh dengan media Australia, Rabu (16/3/2011), yang dilansir Reuters.

"Australia bagian dari kejuaraan dunia ini dan sudah berlangsung sangat lama. Kami tidak senang jika harus berpikir bahwa kita akan kehilangan Australia."

Sirkuit Albert Park sudah menggelar F1 sejak 1996. Di musim perdananya, sebanyak 401 ribu orang menonton balapan tersebut. Dari 2006 sampai 2009, balapan di Albert Park dihadiri rata-rata 298.100 penonton.

Musim lalu gelaran ini dikunjungi 305 ribu penonton, tertinggi sejak 2005, terutama karena pembalap lokal mereka, Mark Webber, tampil sangat baik di musim sebelumnya.

Meski demikian, secara umum GP Australia dinilai tidak menguntungkan, salah satunya karena faktor perbedaan waktu dengan Eropa, yang merupakan kunci pemasaran terkait siaran langsung via televisi.

"Dalam hal Melbourne, jika produk ini terlalu mahal buat mereka, kami memahami itu. Dan jika kontraknya berakhir, tidak perlu diperbarui juga. Kami tak mau memaksa seseorang membeli sesuatu yang mereka tidak mau, atau mereka pikir terlalu mahal," tukas Ecclestone.

Musim ini GP Australia akan menjadi seri pembuka pada 27 Maret, setelah balapan di Bahrain dibatalkan karena situasi politik yang tidak kondusif di negara Timur Tengah tersebut.

(a2s/rin)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads