Setelah sebelumnya batal digelar bulan Maret lalu akibat alasan keamanan, sinyalemen GP Bahrain akan tetap digelar musim ini menguat pasca sidang World Motor Sport Council (WMSC).
Dalam sidang yang berlangsung pada 3 Juni lalu itu, diputuskan bahwa balapan di Sakhir akan dihelat pada tanggal 30 Oktober mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanggapan negatif mengenai ketidakpastian ini pun datang dari beberapa team principal. Eric Boullier, bos-nya Renault, menganggukkan kepala ketika ditanya apakah situasi ini menganggu F1 atau tidak.
"Jelas jawabannya, ya. Saya memang masih muda dan tidak berpengalaman, tapi saya berusaha keras untuk membangun F1 di masa depan. Dan jelas, Anda tak akan mendapatkan reaksi yang bagus ketika hal ini seperti terjadi," ujarnya di Autosport.
Sementara itu, team principal Red Bull, Christian Horner, mengaku kecewa jika situasi politik sampai menghalangi digelarnya GP Bahrain. Apalagi, ia pribadi sangat menyukai sirkuit Bahrain.
"F1 adalah olahraga. Kami ada di sini bukan untuk menjadi kendaraan politik. Posisi kami sebagai tim balap adalah untuk balapan," lugasnya.
"Bahrain adalah sirkuit yang hebat dan kami selalu merasa diterima di sana. Sayang sekali, ada masalah yang tengah berkembang di sana," lanjut Horner.
(roz/mrp)











































