Di tengah-tengah sengitnya kompetisi bergengsi macam F1, unsur baik acap tidak sejalan dengan unsur sukses. Jika terlalu baik atau terlampau santun dengan para rival, bukan tak mungkin si pembalap malah jadi "korban" dan jauh ketinggalan dari lawan.
Dua aspek yang sulit disatukan itu lantas diajukan ke juara bertahan Vettel. Ia ditanya media Bild am Sonntag, lebih memilih jadi pembalap "baik" atau "sukses".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembalap Jerman itu pun menepis anggapan kalau aspek "baik" dan "sukses" tidak bisa berjalan bersamaan, meski ada kalanya itu memang harus dipisahkan, apalagi jika tengah bersaing di lintasan. Namun, lanjutnya, itu juga tidak lantas membuat seorang pembalap mesti jadi menyebalkan di dalam serta luar lintasan.
"Jika Anda terlalu baik, yang lain akan melejit melewatimu. Tapi tidak ada alasan kalau setelah balapan Anda tetap harus jadi brengsek," argumennya.
Setuju dengan Vettel?
(krs/krs)











































