Situasi politik membuat nasib GP Bahrain sempat dirundung tanda tanya. Dalam sidang World Motor Sport Council awal Juni silam, sempat diputuskan bahwa balapan di Sakhir bisa digelar Oktober mendatang.
Namun tim kontestan F1 keberatan dengan keputusan itu. Pada akhirnya GP Bahrain benar-benar dipastikan batal pada pertengahan bulan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebelumnya mereka berpandangan: ''Kami tidak ingin pergi ke Bahrain'. Ya memang sesuatu telah terjadi, namun Anda tidak boleh bersikap temperamental."
Alzayani secara khusus mengecam Mark Webber. Pembalap Red Bull itu merupakan yang paling keras menyuarakan penolakan untuk tampil di Sirkuit Sakhir.
"Webber membahas soal hak asasi manusia. Apakah Australia tidak menghadapi problem terkait suku Aborigin? Saya melihat Webber tak membicarakan tentang itu. Mengapa Webber menentang Bahrain, saya tidak tahu."
"Dia sudah membalap di Bahrain berkali-kali dan dia selalu menyukainya. Kami juga tidak pernah mendapat kritik di tujuh gelaran sebelumnya. Kami selalu mendapatkan penilaian tinggi dari organisasi, semua yang terlibat di F1 menyukainya."
Alzayani mengatakan bahwa keputusan Bahrain untuk mengundurkan diri dari kalender kompetisi musim ini terkait karena banyaknya complain yang datang. "Ada banyak keluhan dari tim dari sponsor, dan pada akhirnya kami memutuskan mundur. Kami tidak ingin terlibat perselisihan dengan tim," jelasnya.
Lalu bagaimana untuk balapan di musim-musim berikutnya? "Saya tidak tahu kapan balapan di Bahrain tahun depan digelar. Itu bukan kewenangan kami," tuntas dia.
(nar/arp)











































