Predikat sebagai "anak kecil penyebab tabrakan" (Crash Kid) pernah dicetuskan bos McLaren, Martin Whitmarsh, saat pemuda Jerman itu menyeruduk Jenson Button pada GP Belgia bulan Agustus tahun lalu.
Kini setelah setahun berlalu, kondisi itu telah berubah. Berkat kematangan yang ada dalam dirinya, Vettel menjelma menjadi seorang pembalap yang sangat dominan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Minggu (9/10/2011) kemarin, Sirkuit Suzuka jadi saksi ketika Vettel mempertahankan gelar juara dunia di ajang Formula 1, meskipun balapan masih tersisa empat seri lagi. Ia pun menjadi pembalap kesembilan dalam sejarah yang pernah menjadi juara dua kali berturut-turut (back to back).
Yang lebih istimewa, rekor back to back-nya itu dicapai dalam usia 24 tahun, termuda dari yang sebelum-sebelumnya. Pencapaian Vettel ini mematahkan rekor sebelumnya atas naama Fernando Alonso saat berusia 25 tahun saat menjuarai musim 2005-2006.
Tahun balap ini benar-benar jadi milik Vettel. Dari 15 balapan yang telah dihelat, ia mampu memenanginya sebanyak sembilan kali, tampil sebagai runner up sebanyak empat kali, sekali peringkat tiga, dan hanya sekali gagal naik podium. Melihat raihannya itu maka patas saja jika musim ini Vettel disebut sebagai "Mr. Consistent".
"Sebastian telah diuntungkan oleh pengalaman yang lebih dan tingkatan yang telah dia mainkan sangat fenomenal tahun ini," lanjut Horner.
"Dia telah benar-benar menyingkirkan penghalang. Dia memasuki tahun ini sebagai juara dunia dan dia berpenampilan seperti juara dunia sejati. Sangat menyenangkan melihat itu," tambahnya.
Tak hanya mampu menyelesaikan lomba dan meraih gelar juara dunia, tapi Vetel juga mampu mendominasi sesi kualfikasi. Sebanyak 12 kali dia merebut pole position. Semua raihan Vettel itu membuat dirinya layak disebut sebagai sebuah fenomena baru dalam ajang jet darat pasca era Michael Schumacher.
"Sangat mudah melupakan bahwa dia baru berusia 24 tahun. Sangat mudah untuk meremehkan apa yang telah dia capai," kata Horner.
Diungkapkan Horner, salah satu kunci sukses pembalapnya itu adalah motivasi untuk terus meningkatkan kemampuanMeski telah berhasil memenangi banyak lomba, dirinya tak lantas berpuas diri. Ia selalu siap memantau dan menganalisa kelemahan-kelemahan dari setiap balapan sebelumnya.
"Ini merupakan sebuah hal yang sangat menyegarkan bagi dirinya, bahwa dirinya tidak pernah puas dengan penampilannya sendiri dan dia akan berada di tempat ini pada hari Jumat dan Sabtu sore daripada kebanyakan pembalap yang lain, karena dia lapar akan infomasi, lapar akan data, dan lapar untuk mengetahui apa yang akan terjadi musim depan," simpul Horner.
(a2s/a2s)











































