Gelar juara pembalap dan juga konstruktor dalam dua musim beruntun selalu direbut Vettel dan juga Reb Bull. Ini sudah membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan mobil milik pabrikan yang bermarkas di Milton Keynes, Inggris itu.
Vettel tentu paling dapat sanjungan dengan kemampuan hebatnya sebagai pembalap muda, ia mampu mengalahkan pesaing-pesaingnya. Serta dukungan dana kuat dari Red Bull sebagai sponsor utama tim dan juga kemampuan memimpin Christian Horner sebagai prinsipal tim, bolehlah 'Banteng Merah' disebut sebagai tim yang komplet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria lulusan University of Southampton tahun 1980 di bidang Aeronautics dan Astronautics pertama kali merambah dunia otomotif di balapan IndyCar. Di sini ia beberapa kali membawa tim serta pembalapnya jadi juara.
Lalu kariernya di F1 dimulai sekitar awal 90-an saat ia bekerja untuk tim Williams, salah satu pabrikan raksasa saat itu. Pertama kali mobil hasil rancangannya turun di GP Prancis tahun itu.
Namun Newey butuh dua tahun untuk membawa seorang Nigel Mansell jadi juara dunia dengan mobil Williams FW14B rancangannya. Lalu di musim 1993 Alain Prost yang mengendarai Williams FW15C dibawanya jadi juara dunia dan juga konstruktor.
Williams pun berjaya lagi di kelas konstruktor pada tahun 1994 meskipun Michael Schumacher jadi juara dunia dengan Benetton-nya. Sempat vakum prestasi setahun, Williams lewat FW18 yang dikendarai Damon Hill menjadi juara dunia di tahun 1996 dan juga di kelas konstruktor.
Semusim setelahnya giliran Jacques Villeneuve yang berjaya dengan Williams FW19 saat menjadi juara dunia. Di musim 1998 dan 1999, Newey pindah ke McLaren Mercedes dan di tim itu pula tangan emasnya kembali membuahkan hasil.
Mika Hakkinen dengan McLaren MP4/13 dibawanya jadi juara dunia dua kali beruntun, di masa keemasan Schumi saat itu. Sayang kehebatannya sempat terhenti setelah rivalnya sesama engineer, Rory Byrne, bersama Ferrari berhasil membawa Schumi menguasai F1 selama lima musim dari 2000 hingga 2004.
Hingga pada akhirnya ia berpisah dengan McLaren dan bergabung dengan Red Bull pada Februari 2006. Tapi butuh waktu lama bagi Newey untuk mengaplikasikan kemampuannya di sini karena selama 2-3 tahun pertama, relatif tak mudah baginya.
Namun ketika perubahan regulasi pada 2009 mengenai desain mobil diberlakukan, barulah otak cemerlang Newey bermain di sini. Red Bull yang tadinya bukan siapa-siapa perlahan disulapnya jadi tim Kuda Hitam, pengganggu dominasi Ferrari serta McLaren.
Pada akhir musim 2009 itu, Red Bull nongkrong di posisi runner up klasemen konstruktor, di bawah Brawn GP. Total enam kemenangan dikumpulkan Vettel dan Mark Webber di musim itu.
Barulah tangan emas Newey akhirnya membuahkan hasil saat RB6 & RB7 membawa Vettel berturut-turut jadi juara dunia dalam dua tahun terakhir.
"Apa yang kami lakukan adalah filosofi dari proses evolusi berkelanjutan. Kami memakai RB6, yang adalah evolusi dari RB5 pada 2009. Jika Anda menyukainya ini adalah sukses tiga generasi yang saling berhubungan," tutur Newey di awal musim mengenai rahasia sukses timnya.
Dengan filosofi seperti itu pantas memang Red Bull kian berkembang dari tahun ke tahunnya. Seakan tak pernah puas, Newey terus berinovasi membuat mobil yang tangguh dan juga kencang bagi para pembalapnya.
Maka tak salah jika pria yang mobil rancangannya telah meraih 120 kemenangan di ajang F1 - Schumacher sebagai pembalap tersukses punya 91 kemenangan-, disebut Raja Midas-nya F1.
Kini kita tinggal tunggu saja, inovasi apa lagi yang bakal ditelurkan musim depan oleh pria yang berhasil membawa enam driver berbeda jadi juara dunia itu.
(mrp/a2s)











































