BAR tentang “Kegagahan” Sato
Selasa, 20 Jul 2004 16:05 WIB
Jakarta - Siapakah pembalap Formula 1 paling “gagah” musim ini? Takuma Sato-lah orangnya. Dia telah menunjukkan peningkatan performa sekaligus peningkatan anggaran pada timnya, BAR Honda.Sudah empat kali dalam enam seri terakhir Sato gagal finish karena mobilnya tak sanggup menahan genjotan pembalap Jepang itu. Ia pun dijuluki “si tukang tubrukan” karena “kepiawaiannya” melintir dan membuat aksi mendebarkan.Anda tentu masih ingat dengan aksi Sato di Monako dan Nurburgring bulan Mei lalu. Dua kali berturut-turut ia terhenti di tengah jalan dengan kondisi mobilnya mengepulkan asap tebal karena kelewat seru digeber. Engineer BAR-Honda Jock Clear bersuara tentang pria 27 tahun itu. Di satu sisi ia merasa salut pada keberanian Sato, terutama dalam menyalip lawan-lawannya. Tapi di sisi lain ia pun mesti belajar mengendalikan diri tanpa harus kehilangan kecepatannya.“Anda tak bisa menyangkal dia punya rekor aksi mendebarkan dan melintir. Meskipun hal ini tidaklah positif buat saat ini, tapi menurutku jalan masih panjang,” ungkap Clear dalam Planetf1, Selasa (20/7/2004).“Ini hanya ukuran dari semangat dan keberaniannya. Dia tidak takut dan tak punya batas untuk melewati mobil lain. Sekarang kami sedang mencoba agar dia lebih hati-hati. Yang pertama, dia mesti menemukan limitnya. Setelah itu, kami yakin dia bisa melejit baik di sesi kualifikasi maupun balapan.”Bagaimanapun BAR juga mesti berhitung dengan kondisi finansialnya. Makin sering mobil rusak apalagi hancur, makin besar pula anggaran pengeluaran tim. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Jordan mendepak Sato pada akhir musim 2002, karena tagihan kerusakan mobil cukup besar.Padahal penampilan Sato musim ini tergolong bagus. Ia tidak hanya memperoleh poin pertama dalam karirnya, melainkan juga meraih podium perdananya pada GP AS 30 Juni lalu — finish di tempat ketiga. Saat ini ia sudah mengoleksi 14 poin, lebih baik daripada pembalap-pembalap beken lain seperti David Coulthard, Kimi Raikkonen, Ralf Schumacher, dan Giancarlo Fisichella.“Dia telah mendemonstrasikan bahwa dirinya sangat cepat di atas satu lap. Podiumnya di Indianapolis juga menunjukkan dirinya bisa mengubah jarak sebuah balapan. Anda tidak bisa menyuruh pembalap melambatkan kecepatannya, tapi Anda bisa lebih menenangkannya,” tandas Clear. (a2s/)











































