Mau Apa, Jenson?

Mau Apa, Jenson?

- Sport
Rabu, 11 Agu 2004 14:27 WIB
Jakarta - Kalau sekadar dari kulitnya, mungkin banyak orang sebal dengan Jenson Button yang tiba-tiba memutuskan hengkang ke BMW-Williams. Apa sih yang dimaui rising star Inggris ini?Fans BAR-Honda barangkali menganggap Button seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Padahal tahun ini ia mengalami perubahan nasib, dari yang sempat dilupakan menjadi yang paling sering diberitakan orang.Tujuh kali naik podium dalam satu musim tidak pernah dilakoni Button sejak berkarir di arena Formula 1 pada tahun 2000. Tahun ini ia sudah mengoleksi 61 angka, bahkan lebih besar daripada total poinnya dari 2000 sampai 2002. Bersama BAR Button kembali menjadi pembalap yang serius. Ia pernah disindir habis-habisan oleh Nicky Lauda karena dua tahun lalu tenggelam dalam statusnya sebagai selebritis. Ia juga kerap gonta-ganti pasangan sehingga cap playboy sempat melekat padanya.Tapi sejak tahun lalu, sejak pertama kali membela BAR, gaya hidup tersebut bisa direm. Namun musim lalu ia belum terlalu menonjol karena BAR masih punya juara dunia 1997 Jacques Villeneuve, meskipun pembalap Kanada itu kalah poin daripada Button.Baru setelah Villeneuve didepak dan performa Honda lebih oke, Button pun melesat kencang bak mobil F1 itu sendiri. Lalu tibalah ia di trek kesuksesan seperti disebutkan di atas.Lalu, jika kemudian ia tiba-tiba memutuskan pindah ke Williams, ada apa gerangan? Betulkah apa yang dijadikannya sebagai alasan punya tingkat kebenaran yang tinggi? Button selalu mengatakan peluang menjadi juara dunia lebih besar dimiliki Williams ketimbang BAR.Oh ya? Tapi, bukankah musim ini Williams relatif tidak sebagus BAR? Bahkan, kalau saja Takuma Sato tidak main seradak-seruduk, barangkali tim inilah yang paling mengancam Ferrari selain Renault. Asal mampu menjaga performa dan terus meningkatkannya, mungkin saja BAR bisa bertahan di papan atas konstruktor sekaligus bersaing dengan Williams yang memang sudah lama mapan.Versi lain, kabarnya manajemen Button cemas dengan kelanjutan partnership BAR dengan Honda. Itu sebabnya mereka terkesan sengaja membuat BAR kehilangan opsinya buat mempertahankan Button. BAR sudah mencoba mewujudkan opsi tersebut, dan manajemen Button mengakui telah mengetahuinya. Tapi mereka tetap mengklaim ada hal teknis sehingga kontrak baru itu dipandang β€œtidak valid”.Kubu Button mungkin tidak yakin bahwa Honda akan tetap bekerja sama dengan BAR. Pasalnya, pabrikan mesin asal Jepang itu sendiri belum mantap dengan masa depan BAR jika larangan sponsor rokok mulai diberlakukan. Padahal BAR dimiliki salah satu perusahaan tembakau terbesar di dunia, BAT (British American Tobacco).Atau, mungkin saja Button sekadar ingin membalas jasa Williams karena telah mengangkatnya ke arena Formula 1. Kebetulan, Williams baru saja merekrut Mark Webber buat musim depan. Yang terakhir bisa ikut menentukan antusiasme Button.Dalam dunia F1 berlaku hukum β€œkalahkan dulu rekan setim, baru incar gelar juara”. Tentu saja konteksnya adalah tandem yang kompetitif. Saat ini Sato terlalu gampang dikalahkan Button. Jadi, ia bukanlah sebuah tantangan besar.Webber-lah yang lebih kompetitif. Bersama tim gurem saja potensinya sudah terlihat jelas, apalagi bersama tim semapan Williams. Button tampaknya sudah menantikan berduet dengan pembalap Australia itu. Usai GP Jerman lalu ia membuat hirarki calon juara dunia setelah Michael Schumacher. Waktu itu ia lebih dulu menyebut Webber baru kemudian Kimi Raikkonen, Juan Pablo Montoya, dan Fernando Alonso. Jadi, jika Button mampu bersaing dengan rekan setimnya yang juga bagus β€” katakanlah Webberβ€”, plus menunggangi mobil BMW-Williams, semangat memburu titel juara memang lebih bergolak.Yang barangkali ironis buat fans BAR adalah apabila alasan utama Button hengkang dari tim tersebut dipicu masalah uang. Kabarnya ia merasa kecewa karena bonus penampilan seperti yang dijanjikan David Richards, team principal BAR, tak kunjung cair. Kalau ya, ternyata ini cuma β€œUUD” alias ujung-ujungnya duit.Jadi, apa yang dimaui Button hanya ia seorang yang tahu pasti. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads