GP Cina Tak Senangkan Semua Orang
Selasa, 28 Sep 2004 08:42 WIB
Jakarta - Dalam hal teknis balapan GP Cina dianggap sukses. Para pebisnis antusias dengan potensi pasar dari perhelatan di Shanghai, sementara para pembalap mengaku puas dengan trek di sirkuit mewah tersebut.Akan tetapi debut Cina menjadi tuan rumah Grand Prix Formula 1 hari Minggu (26/9/2004) lalu tidaklah menyenangkan semua orang. Ironisnya, nada ketidakpuasan muncul dari publik Cina sendiri. Soalnya apalagi kalau bukan menyangkut sisi ekonomi. Banyak warga setempat dilaporkan tidak bisa menikmati balapan tersebut secara langsung karena tiket masuk sirkuit dinilai terlalu mahal. Bahkan tiket paling murah β sekitar Rp 410 ribu β nilainya hampir mendekati gaji bulanan rata-rata penduduk negara tersebut.Pernak-pernik F1 di toko-toko di kawasan kota Shanghai juga dirasakan cukup sulit dijangkau masyarakat setempat. Untuk sebuah replika topi Michael Schumacher misalnya, pembeli harus membayar 350 yuan atau Rp 382 ribu.βPerkara mahal, warga mengeluh,β demikian sebuah headline harian Shanghai pada edisi Senin (27/9/2004). βSemua orang mencuri dari dompetku,β kata seorang penonton yang dikutip koran tersebut.Lebih luas kalangan pers juga menyarankan agar federasi otomotif Cina dan pemerintah domestik mencari berbagai macam cara agar olahraga tidak menjadi tontonan yang mahal. Kontroversi tersebut memperoleh tanggapan dari Presiden FIA Max Mosley. Ia mengatakan, meskipun pentas F1 di Cina mengandung potensi besar, namun ongkos yang terlalu tinggi justu bisa menghambat perkembangan motor sport di negara tersebut. Ia juga menekankan perlunya Cina memiliki seorang pembalap F1. (a2s/)











































