Sampai dengan seri ke-12, Vettel masih memuncaki klasemen pebalap dengan 222 poin. Pebalap Red Bull itu unggul 53 angka dari Fernando Alonso (Ferrari) yang sekarang jadi pengejar terdekatnya di papan klasemen.
Dari total seri yang sudah dijalani sejauh ini, Vettel berhasil memenangi separuhnya. Dua di antaranya ia raih dalam dua seri terakhir, yakni di Belgia dan Italia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemenanganku di 2011 dan 2012 adalah yang terbaik karena sejujurnya aku berpikir itu adalah salah satu balapan terberat dalam satu tahun, jadi meraih kemenangan adalah momentum luar biasa dan Anda merasa layak atas sampanyenya," kata Vettel di AFP.
"Itu adalah sebuah balapan yang amat panjang, dua jam penuh, jadi baapannya terasa sangat lama. Sirkuitnya sendiri seperti pemangsa karena ada sedemikian banyak tonjolan, tak boleh ada ruang untuk kesalahan," tuturnya.
Sudah memenangi gelar juara dunia tiga musim beruntun, kenyataan saat ini membuat Vettel berada dalam posisi tepat untuk mencatatkan yang keempat secara beruntun. Ia bahkan disebut sudah bisa memastikan gelar di GP Jepang pada 13 Oktober mendatang jika situasi berjalan sesuai skenarionya.
Performa apik Vettel itu sendiri di sisi lain sudah melahirkan ketidaksukaan sejumlah pihak. Suara cibiran keras terdengar saat Vettel merajai GP Italia lalu, kendatipun itu tak lepas dari fakta bahwa keberhasilannya turut membuat Alonso gagal berjaya dengan Ferrari--Italia menjadi balapan kandang Ferrri.
Sudah begitu, catat AFP, label "siapapun kecuali Vettel" kini semakin sering bermunculan. Di laman Facebook, misalnya. Maka tentu saja ada pihak-pihak yang menunggu munculnya pebalap lain yang menghambat Vettel atau malah sekaligus mematahkan dominasinya.
"Suara klik keras yang mungkin ditenggelamkan oleh raungan mesin... adalah suara dari ribuan pemirsa, bosan dengan dominasi dari seorang pemenang, mematikan televisi mereka," tulis Kevin Eason dari London Times usai GP Italia lalu.
(krs/mrp)











































