Dua pebalap satu tim bertarung sengit, saling susul dan berkali-kali terlibat aksi wheel to wheel sangat jarang terjadi dalam beberapa musim belakangan. Namun Rosberg dan Hamilton mematahkan tabu tersebut dalam race di GP Bahrain, Minggu (6/4/2014) malam WIB.
Aksi saling susul antara keduanya sudah dimulai sejak tikungan pertama lap pertama, saat hamilton mengambil alih posisi terdepan dari tangan Rosberg - yang dapat pole position. Secara keseluruhan Hamilton dominan di posisi terdepan, tapi dia meraihnya dengan susah payak karena Rosberg terus memberi tekanan sepanjang 57 lap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu bukan sesuatu yang umum terjadi, terlebih beberapa tim lebih senang menerapkan team order dengan menjadikan salah satu pebalap sebagai prioritas dibanding pebalap yang lain. Hal lainnya, duel seperti itu berpotensi memunculkan kerugian besar jika kedua mobil bersenggolan dan bisa sama-sama menyandang status DNF alias tidak finis.
"Saya sepenuhnya sadar terhadap apa yang dunia sebut sebagai tem order, tapi bukan itu masalahnya. Pesannya cuma 'guys, pastikan kalian berdua membawa mobil sampai garis finis'. Jadi pesannya (dari tim) jelas," sahut Rosberg usai balapan.
"Kami membalap, tapi dengan rasa hormat, kami bebas untuk membalap dan terus bersaing. Tidak ada momen di mana mobil terancam out. Mungkin tidak terlihat di televisi, tapi itu balapan yang ketat dan seru," lanjut dia di Autosport.
Duel Rosberg dan Hamilton menjadi semacam ulangan atas rivalitas mereka yang sudah terbangun sejak masih anak-anak. Keduanya pernah bersaing di balapan karting, sementara di ajang GP2 Rosberg (2005) dan Hamilton (2006) bergantian jadi juara dunia, meski tidak saling berkompetisi.
"Saya pikir saya sembilan kali membalapnya, tapi dia selalu bisa kembali mengambil posisi itu. Dia melakukan pekerjaan dengan baik. Lewis pebalap yang hebat, dan dia berhasil, lain kali saya harus berusaha lebih baik lagi," tuntas pebalap asal Jerman itu.
(din/rin)











































