Lotus F1 menyindir kebijakan Renault yang terlalu menganakemaskan Red Bull dalam pengembangan mesin, meski itu diakui bukan satu-satunya masalah musim lalu. Mereka juga menyinggung soal mesin musim ini.
Lotus menjalani musim 2014 lalu dengan hasil mengecewakan. Hanya tiga kali mereka menyelesaikan balapan di posisi 10 besar, mengumpulkan total 10 poin.
Sementara performa Lotus stagnan sepanjang musim, pengguna mesin Renault lainnya yakni Red Bull mampu berkembang meski sama-sama sempat kesulitan awalnya. Chairman sekaligus prinsipal tim Lotus Gerard Lopez menyebut hal ini terjadi karena perbedaan pendekatan Renault pada kedua tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, Gerard juga mengakui ada faktor lain yang memengaruhi stagnasi performa timnya musim kemarin. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki laju mobil tak sukses.
"Meskipun kami saat itu secara kontinu mencoba mengembangkan E22, musim kami secara efektif berakhir dengan delapan atau sembilan balapan sebelum musim usai," tambahnya.
Salah satu kesalahan Lotus kala itu diakui Gerard adalah menempatkan fokus pengembangan pada kecepatan puncak mobil. Musim ini dengan memakai mesin dari Mercedes, dia menyebut pengembangan tak lagi dilakukan dengan gegabah demi menghindari kesalahan serupa.
"Ini adalah pendekatan yang sedikit kurang agresif. Bukan hanya karena kami bertindak terlalu jauh dengan E22, tapi kami menembak diri kami sendiri dengan memaksa pengembangan yang difokuskan ke aspek kecepatan puncak. Itu adalah sebuah bunuh diri," demikian dia.
(raw/nds)











































