Survei itu dilakukan Asosiasi Pebalap Grand Prix (GPDA), yang hasilnya mereka umumkan pada Rabu (1/7) kemarin. Survei online itu diikuti oleh 217.756 fans dari 194 negara, dari 22 Mei sampai 8 Juni.
"Dari fans sudah jelas: mereka tak ingin pembongkaran secara radikal untuk balapan grand prix yang membuatnya semakin jauh dari akar sejarahnya," ujar ketua GPDA, Alex Wurz, seperti dikutip Reuters.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka ingin olahraga yang kompetitif, tidak sekadar pertunjukan (show). Dan mereka berpikir bahwa bisnis F1 telah menjadi begitu penting, sampai-sampai membahayakan olahraga kita ini."
Dalam pernyataan terpisah di situs resmi GPDA, Wurz mengatakan bahwa sebuah revolusi tidaklah diperlukan untuk mengubah F1, sebagaimana disarankan oleh bos Ferrari, Maurizio Arrivabene. Namun, fans juga tidak menghendaki "pertunjukan buatan dengan tipu muslihat untuk mengesankan bahwa balapan menjadi lebih menarik".
Sebelumnya, pada pertemuan antara tim-tim, pemegang hak komersial dan pengurus F1 pada Selasa lalu di London, dicetuskan ide agar di musim 2017 mobil-mobil dibuat lebih kencang, lebih bising, lebih sulit dikendarai, dan lebih terlihat agresif.
Fans sendiri memang menginginkan mesin-mesin mobil yang lebih bertenaga dan bising, dan juga lebih menekankan pada skill pebalap. Mereka juga ingin regulasi pengisian bahan bakar saat balapan dan kompetisi pabrikan ban kembali diterapkan.
Fans ingin aturan-aturan teknis yang lebih rileks dan juga menerapkan pembatasan anggaran (budget caps). Sebab, tiga kata yang menggambarkan F1 saat ini adalah "mahal", "teknologi", dan "membosankan".
(a2s/rin)











































