Tiga piala yang diperebutkan di ajang F1 sudah punya pemilik walaupun masih ada 3 seri yang akan dijalani sedari akhir pekan ini di Meksiko--diikuti Brasil dan Abu Dhabi. Musim ini Mercedes jadi juara dunia konstruktor, dan pebalapnya Lewis Hamilton menjadi juara dunia pebalap sekaligus menyabet trofi peraih pole terbanyak. Hamilton memastikan gelar juara dunianya itu, untuk kali kedua berturut-turut, setelah meraih kemenangan ke-10 musim ini pada balapan akhir pekan lalu di Austin, Amerika Serikat.
Namun demikian, keberhasilan Hamilton saat itu tetap kalah ramai dibicarakan ketimbang sebuah insiden di MotoGP Malaysia pada akhir pekan yang sama ketika memunculkan duel sengit Rossi dengan Marquez.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tambah menarik karena Marquez bahkan sudah tak terlibat dalam persaingan gelar juara dunia MotoGP saat ini--yang tinggal menyisakan Rossi dengan rekan setimnya saja, Jorge Lorenzo. Memang, insiden itu berimbas pada perebutan gelar karena Rossi kini harus start dari posisi terakhir pada balapan pamungkas di Valencia.
F1? Hamilton dan rekan setimnya, Nico Rosberg, faktanya sempat kembali terlibat persaingan berebut gelar juara dunia seperti di 2014 lalu. Usai balapan di Austin pada akhir pekan pun sempat muncul insiden lempar topi di antara mereka. Juga ada Sebastian Vettel dari Ferrari yang tahun ini bisa ikut meramaikan persaingan. Tetapi kenapa F1 2015 tetap saja terasa datar tidak seperti masa jayanya dulu?
Perlu pembahasan panjang mengulas hal tersebut, tetapi di atas permukaan dapat dikatakan bahwa ketiadaan keseimbangan kekuatan di jajaran tim adalah salah satu faktor utama.
Di tengah dominasi Mercedes sejak musim lalu, setiap pekan akan dimulai dengan satu terkaan: Hamilton atau Rosberg yang bakal menang. Pebalap-pebalap top lain, yang notabene juga berstatus juara dunia macam Vettel, Fernando Alonso, dan Kimi Raikkonen, malah lebih sering bergulat dengan aneka masalah, entah itu laju mobilnya yang kurang cepat atau perkara reliabilitas mesin.
Maka terkecuali ada sesuatu yang "spesial", semisal cuaca, dapat dipastikan Hamilton dan atau Rosberg yang akhirnya berjaya, dengan para driver lain jauh tertinggal di belakang mereka. Ini tercermin dari sembilan finis satu-dua dari keduanya dalam 16 seri sejauh ini.
Hal itu tidak lepas dari betapa Mercedes sudah mampu mengembangkan mobil, dan secara khusus faktor mesin, yang unggul jauh di depan para pesaingnya. Tanpa merendahkan kerja keras tim tersebut, atau Red Bull yang sebelum dominasi Mercedes juga sempat digdaya dengan empat gelar juara dunia konstruktor dan pebalap berurutan, faktor ini turut berimplikasi pada keseimbangan kekuatan dan atmosfer F1.
Bandingkan dengan MotoGP di mana mesin-mesin pabrikan macam Honda acapkali terlihat unggul di trek lurus, dengan mesin-mesin Yamaha tampak meluncur lebih mulus pada tikungan, dan mesin Ducati yang belakangan juga seperti kembali dapat bersaing di depan.
Dengan masing-masing mesin relatif punya keunggulan dan kekurangan, tiap rider MotoGP bukan cuma harus putar otak mencari pengaturan terbaik atas motornya, melainkan juga mengerahkan kemampuan di atas lintasan guna memaksimalkan keunggulan sekaligus meminimalisir kekurangan. Faktor rider di MotoGP menjadi amat penting karena hal sekecil apa pun yang mereka lakukan di lintasan bisa jadi pembeda.
F1? "Di bawah regulasi turbo V6 dengan ban-ban yang harus telaten diperhatikan, yang tersisa adalah olahraga di mana mesin adalah rajanya," catat Motorsport.com dalam ulasan yang turut membandingkan atmosfer F1 dan MotoGP saat ini.
MotoGP, dengan menempatkan para pebalapnya sebagai "raja", pada prosesnya ikut mendorong lahirnya persaingan dan manuver yang dapat bikin penggemarnya di rumah bisa sensi kalau ada yang tiba-tiba mengganti saluran TV, saking takutnya kehilangan aksi sedetik pun. Sebaliknya penggemar F1 saat ini boleh jadi lebih akrab dengan remote TV akibat balapan yang relatif gampang ditebak.
Dengan F1 akan mulai memberlakukan regulasi baru untuk musim 2017, harapan penggemarnya tentu adalah hal itu akan kembali melahirkan duel-duel klasik macam Ayrton Senna vs Alain Prost atau Michael Schumacher vs Mika Hakkinen di era lalu.
(krs/din)











































