Dicari, Pawang Hujan Untuk F1!
Senin, 07 Mar 2005 17:10 WIB
Jakarta - Formula 1 musim 2005 sungguh menggelikan. Teknologi jutaan dolar menjadi sia-sia hanya karena hujan. Tampaknya saat ini kru pawang hujan lebih dibutuhkan.Aturan baru yang diterapkan FIA akhirnya resmi digunakan di GP Formula 1 musim 2005. Tujuan utama aturan baru yakni penghematan dan pengurangan kecepatan demi keselamatan pembalap relatif berhasil dicapai.Kecepatan mobil terbukti lebih lambat. Ini bisa dilihat dari fastest lap sang juara Giancarlo Fisichella yang lebih lambat sampai satu detik dibandingkan rekor tahun lalu yang atas nama pembalap Ferrari, Michael Schumacher.Masalah penghematan biaya operasional, mungkin tidak bisa kita ketahui persis. Namun berdasarkan teori, jelas pembatasan penggunaan ban akan mengurangi pengeluaran tim. Demikian juga aturan mesin yang digunakan harus untuk dua seri. Namun kemudian kelemahan aturan baru akhirnya terlihat. Jika mau, ternyata tim "kaya" seperti BAR Honda ternyata bisa mengakali aturan pembatasan mesin dengan menarik mobilnya saat balapan masih berlangsung. FIA mebenarkan tim yang tidak finis untuk mengganti mesin di seri berikutnya.Akibat yang timbul karena tindakan seperti yang dilakukan BAR tadi ialah terancamnya nilai sportifitas. Jika tim-tim "mampu" merasa tidak mungkin lagi untuk meraih poin, lebih baik mundur dari balapan agar bisa mengganti mesin. Bisa-bisa pada seri berikutnya, mobil yang menyelesaikan balapan hanya delapan, yakni mereka yang mendapat poin.Kelemahan mendasar lainnya ialah kredibilitas juara Formula 1 musim ini diragukan. Pasalnya keunggulan teknologi otomotif yang dimiliki tim, maupun kemampuan teknisi serta pembalap menjadi tidak berarti oleh faktor non-teknis seperti cuaca yang tidak menentu.Contohnya sudah jelas terlihat di GP Austaralia. Hujan turun dan berhenti dengan tiba-tiba. Yang mendapat keuntungan ialah Fisichella. Pembalap Italia ini melakukan kualifikasi setelah hujan berhenti beberapa menit, dan permukaan trek menjadi kering. Namun begitu Fisichella selesai, hujan turun lagi sehingga menyulitkan pembalap selanjutnya untuk tampil maksimal.Saat balapan cuaca ternyata cerah, tidak ada hujan seperti yang diramalkan. Lantas apa yang terjadi? Aturan baru mengharuskan penggunaan ban yang sama saat kualifikasi dan balapan. Akibatnya Fisichella tetap melaju dengan ban ideal, namun tidak dengan beberapa tim lain. Alhasil pembalap Italia itu "tidak tersentuh" hingga akhir balapan.Bagi yang bosan dengan tampang Schumi di atas podium, tampilnya Fisichella sebagai juara tentunya menjadi sesuatu yang sangat menarik. Namun haruskah mengorbankan "kredibilitas" F1 untuk menghasilkan juara baru?Berapa besar kerugian yang diderita tim-tim lain yang sebenarnya lebih siap. Untuk mendesain mobil baru tiap tahun bukanlah hal yang mudah. Butuh penelitian yang jelas memakan biaya besar. Pantaskah hal ini menjadi sia-sia karena sesuatu yang tidak bisa dipastikan seperti cuaca?Demikian juga dengan pihak sponsor yang menumpang berdagang di mobil Formula 1. Tentunya pihak sponsor harus mengeluarkan lebih banyak biaya agar dagangannya menempel di mobil yang berpotensi sebagai juara. Tetapi lagi-lagi sponsor juga akan menjadi pihak yang dirugikan karena cuaca. Bagaimana jadinya jika Formula 1 ditinggal sponsor? Jawabannya mudah, tidak akan ada lagi olahraga yang bernama Formula 1.Musim 2005 baru berjalan satu seri, namun ancaman kerusakan yang akan terjadi sudah terlihat jelas. Jika tiap balapan cuacanya stabil, tentunya kerusakan tidak akan terjadi. Namun siapa yang bisa menjamin cuaca? Di Indonesia orang kerap menggunakan jasa "pawang hujan" untuk event tertentu. Jika tidak ada penyempurnaan aturan oleh FIA, mungkin tim-tim Formula 1 perlu buru-buru memasang iklan lowongan di Indonesia. "Dicari, pawang hujan untuk Formula 1! (lom/)











































