Saat (Uang) Negara Mendukung Pebalapnya Tampil di F1

Saat (Uang) Negara Mendukung Pebalapnya Tampil di F1

Doni Wahyudi - Sport
Jumat, 19 Feb 2016 15:25 WIB
Saat (Uang) Negara Mendukung Pebalapnya Tampil di F1
Foto: Getty Images/Mark Thompson
Jakarta - Rio Haryanto cuma satu contoh dari banyak pay driver di F1. Beberapa punya sponsor sendiri, namun ada juga yang diongkosi negara.

Rio harus menyetor dana sebesar 15 juta euro untuk bisa dapat satu mobil Manor dan kesempatan berlaga di F1 musim 2016. Uang lebih besar dibutuhkan pebalap asal Solo itu jika ingin memperkuat tim yang lebih kuat, Force India disebutkan memasang tarif 25 juta euro jika ingin mengisi kokpit mereka.

Sepanjang sejarah F1 sudah banyak pebalap seperti Rio. Mereka harus menyetor dana yang tidak sedikit untuk mengikuti olahraga paling mahal itu. Di F1 itu hal yang biasa, mempertimbangkan mahalnya biaya hidup setiap tim untuk satu musim balap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

[Baca juga:Β Mengapa Rio Harus Bayar untuk Membalap di F1? ]

Uang 15 juta euro itu sampai kini belum sepenuhnya dipegang Rio, meski dia sudah menyetorkan uang DP sebesar 3 juta euro. Pertamina sebagai sponsor Rio sudah menyatakan akan memberikan dukungan dana sebesar 5 juta eruo, di mana pembayaran tahap pertama senilai 2,25 juta euro sudah dilakukan. Sementara pemerintah sudah menjanjikan memberi bantuan dana Rp 100 miliar (sekitar 6,7 juta euro) dengan mengambil dana APBN.

"Kami sudah setor, dua tahapan. Waktu itu 2,25 juta euro. Dalam kontrak setelah 3 kali race total semuanya. Jadi, sesuai dengan komitmen, Pertamina (memberikan) 5 juta euro," ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Wianda Pusponegoro, pada konferensi pers di Gedung Utama Pertamina Pusat, Jakarta, Kamis (18/2/2016).

[Baca juga: Pertamina Tetap Berkomitmen Jadi Sponsor Rio Haryanto]

"Melihat prestasi Rio, semoga ada BUMN lain mau membantu Rio. Kemarin masih ada ketidakpastian tampil atau tidaknya. Selanjutnya saya akan laporkan ke Ibu Menteri. Rio ini tidak bisa jalan sendirian," kata Perwakilan BUMN, Edwin Abduloh.

Kalau memang dana dari APBN itu nantinya jadi turun - karena kini muncul resistensi dari publik dan DPR - Rio bukan pebalap pertama yang mendapat bantuan dana dari negaranya. Ketika membuat kejutan dengan turun di F1 musim 2001 silam, Alex Yoong juga dapat sokongan dana dari Pemerintah Malaysia.

NYTimes menyebut Yoong harus membayar uang senilai US$ 10 juta untuk bisa mendapat kursi balap di Minardi. Disebutkan kalau Yoong dapat dana sponsor sebesar US$ 6 juta dari Magnum Corporation (perusahaan judi yang beroperasi di Malaysia), sementara sisanya ditalangi bersama Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Kota Kuala Lumpur.

Mundur ke tahun-tahun awal penyelenggaraan F1 ada Juan Manuel Fangio. Dia datang ke F1 dengan mendapat dukungan penuh dari pemerintah Argentina yang ketika itu berada di bawah kekuasaan diktator militer, Juan Peron. Uang yang dikeluarkan Peron 'balik modal' dalam bentuk lima gelar juara dunia.

Namun begitu, sebagian besar pay driver datang ke F1 dengan sponsor. Baik sponsor berupa swasta atau BUMN.

Hingga kini, pay driver berkantung paling tebal saat datang ke F1 adalah Pastor Maldonado dari Venezuela. Dia membeli satu kursi Williams dengan dana diyakini sebesar 45 juta poundsterling. Uang tersebut didapat Maldonado dari PDVSA (PetrΓ³leos de Venezuela SA), perusahaan minyak nasional milik negara tersebut. Jalan Maldonado ke trek F1 makin lebar karena dia berteman dekat dengan Presiden Hugo Chavez ketika itu.

Sementara Bruno Senna 'membeli' kursi Williams lainnya setelah dia menerima bantuan dana 12 juta poundsterling dari Eike Batista. Batista adalah pebisnis kakap asal Brasil yang bergerak di bidang pertambangan dan eksplorasi minyak serta gas. Beberapa tahun lalu dia adalah orang paling kaya di Brasil.

Sponsor swasta juga berada di belakang Vitaly Petrov saat dia terjun ke balapan jet darat. Membutuhkan dana 12 juta poundsterling, Petrov disokong salah satu perusahaan minyak terbesar negara tersebut, Sibur. Beberapa perusahaan lain ikut urunan membantu mengumpulkan dana yang dibutuhkan Petrov.

Dari Meksiko, Sergio Perez datang ke Sauber membawa uang US$ 10 juta yang dibekalkan Telmex padanya. Telmex adalah perusahaan telekomunikasi nasional Meksiko, yang kemudian diprivatisasi.

Pay driver lain yang membawa uang sangat banyak untuk turun ke F1 adalah Pedro Diniz. Tak tanggung-tanggung karena dia lima musim beruntun berstatus pay driver (1995-2000) dengan membela Ford, Ligier, Arrows, hingga Red Bull Sauber. Diniz diberi dana tak terbatas oleh ayahnya AbΓ­lio dos Santos Diniz, yang merupakan konglomerat pemilik perusahaan ditributor terbesar di Brasil dan jaringan super market Pao de Acuar.



Mantan juara dunia F1 tiga kali, Niki Lauda, malah membiayai dirinya sendiri ketika memperkuat March di tahun 1971. Lauda mengajukan pinjaman bank senilai 30.000 poundsterling. Lauda menjaminkan polis asuransi jiwanya demi mendapat pinjaman itu. (din/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads