"A driver with little talent and a big wallet'. Terima atau tidak, anggapan tersebut sudah menempel pada mereka yang masuk ke F1 dengan status pay driver.
Pay driver adalah sebuah anomali dalam dunia olahraga. Jika atlet di cabang olagraga apapun terpilih masuk grup elit karena kemampuannya yang memang spesial, di F1 itu semua bisa ditawar jika membawa uang dalam jumlah yang besar. Tim F1, demi memenuhi kebutuhan hidupnya, harus 'menjual' mobilnya pada pebalap yang datang menawarkan imbalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa pebalap pay driver membuktikan kalau mereka cuma butuh 'sedikit bantuan' untuk dapat kesempatan menunjukkan kehebatannya. Mereka yang masuk ke F1 dengan menyetorkan dana tertentu ada yang bisa pensiun dengan status legenda berbekal beberap gelar juara dunia.
Salah satu pebalap tersukses sepanjang sejarah F1, Juan Manuel Fangio, adalah pay driver. Dia dapat dukungan dana penuh dari pemerintah Argentina di bawah kekuasaan Juan Peron. Fangio pensiun dengan mengantongi lima gelar juara dunia.
Di awal tahun 1970-an Niki Lauda mencoba masuk ke balapan F1. Disebutkan kalau driver asal Austria itu membayar 30.000 poundsterling supaya bisa dapat kursi di Tim March. Lauda mendapat uang itu dari pinjaman bank dengan jaminan polis asuransi jiwa dirinya sendiri.
Bahkan Michael Schumacher adalah seorang pay driver. Pada 1991 Scumacher membayar Tim Jordan US$ 150.000 untuk mendapatkan tempat di tim tersebut. Schumacher menyudahi musim pertamanya di posisi 14 klasemen akhir. Tapi tiga tahun kemudian dia menjadi juara dunia. Sampai akhirnya pensiun di 2012, legenda balap asal Jerman itu punya tujuh gelar juara dunia.
Pay driver terakhir yang cukup berprestasi adalah Fernando Alonso. Saat pindah ke Ferrari dari Renault pada tahun 2010 dia membawa serta Santander, sebuah bank di Spanyol yang menjadi sponsor Alonso. Tapi ketika itu Alonso sudah punya dua gelar juara dunia.
Sukses besar bisa didapat beberapa pebalap tersebut di atas. Tapi ada banyak pay drive yang gagal di balapan jet darat. Karena keberadaan mereka sangat tergantung sokongan dana, beberapa malah tak bisa bertahan lama di F1.
Alex Yoong cuma bisa bertahan satu musim (2002) di Minardi, setelah di musim sebelumnya tiga kali tampil dengan tim yang sama. Total Yoong tampil di 17 balapan (14 start) dengan hasil terbaik finis ketujuh di GP Australia 2002. Dalam kurun tersebut dia tercatat delapan kali menderita retired dan hanya enam kali menuntaskan balapan.
Sementara Vitaly Petrov menjalani tiga musim di F1 setelah membayar 12 juta poundsterling pada Renault. Pebalap asal Rusia itu total menjalani 58 balapan dengan hasil paling oke naik podium ketiga GP Australia tahun 2011. Dalam kurun itu dia cuma 10 kali masuk posisi 10 besar.
Yang menarik dari jajaran pay driver adalah Pedro Diniz. Pebalap asal Brasil itu bertahan lima tahun di F1, di mana dalam kurun tersebut dia terus dapat dukungan dana dari ayahnya. Hasil terbaik Diniz adalah posisi enam, yang dia raih beberapa kali.
BBC menyebut Pedro Diniz berhasil meraih beberapa poin penting dalam kariernya di F1. Tapi dia lebih diingat atas keberhasilan lolos dari kebakaran besar pada mobilnya pada GP Argentina di tahun 1966.
Sergio Perez, yang menggunakan jutaan dollar dana dari Telmex (perusahaan telekomunikasi Meksiko) untuk masuk ke F1, tahun ini akan menjalani musim keenamnya di F1.
Perez tidak bisa dibilang spesial, meski tidak buruk-burut amat. Dia sudah empat kali naik podium, termasuk jadi runner up di GP Italia tahun 2012. Musim lalu dia finis di posisi sembilan klasemen akhir dengan poin 78. Itu merupakan capaian terbaiknya.
Pada pertengahan 1990-an dunia F1 mengenal Taki Inoue. Driver asal Jepang itu kemudian dijuluki sebagai pebalap F1 terburuk sepanjang sejarah. Dia dua musim turun di F1 tanpa dapat satupun poin, dengan momen paling dikenang adalah saat tertabrak ambulans yang datang untuk memberi pertolongan padanya. (din/mfi)











































