Meski Rio sudah resmi menjadi salah satu pebalap Manor Racing namun dia masih belum sepenuhnya membayar uang sponsor. Manor meminta 15 juta euro (sekitar Rp 224 miliar) untuk satu musim, hingga kini manajemen Rio baru membayar uang panjar 3 juta euro.
Sementara, pihak Pertamina --selaku salah satu sponsor Rio-- berkomitmen untuk memberikan 5 juta euro (sekitar Rp 74 miliar). Kendati begitu saat ini Pertamina baru menyetor 2,25 juta euro, sementara sisanya 2,75 juta euro baru dibayarkan setelah Rio tampil di tiga seri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajemen Rio sampai saat ini masih terus mencari bantuan dana untuk melunasi kekurangan dana yang ada. Sebelumnya, manajer Rio Haryanto, Piers Hunnisett, mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan beberapa calon sponsor dari pihak swasta, sekaligus membantah ada sponsor dari pihak BUMN.
Hal ini pun ditanggapi Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014 ini dengan nada nyinyir.
"Masa negara untuk biayain anak bangsa sebesar 15 juta euro tidak bisa. Berarti ada yang salah dengan sitem negara ini. Kan ada undang-undangnya, atlet yang membawa negara itu harus dibiayain. Dana sebesar 15 juta euro itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan orang yang telah membawa nama Indonesia dan sejarah lagi. Masa tidak bisa biayain," cetus Oktohari.
"Banyak orang yang ambil peluang dari negara kita, tetapi kok begitu diminta kontribusinya tidak ada. Kan salah. Masalahnya begini, ini kan membawa nama bangsa. Harusnya orang berlomba untuk memberikan support sama Rio. Banyak kok pengusaha sukses, di statistik kita ada 5 persen dari orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa."
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pernah menjanjikan akan memberikan dana sebesar Rp 100 miliar untuk menutupi kebutuhan Rio di F1. Namun, itu baru sebatas usulan kepada Kementerian Keuangan dan belum disetujui oleh Komisi X DPR RI. Bagi atlet dan cabang olahraga lainnya, jumlah itu tentu tidaklah kecil. Kemungkinan anggaran itu bakal menimbulkan kecemburuan besar terjadi.
Namun Okto, panggilan akrab Raja Sapta Oktohari, justru menyatakan tidak setuju dengan cabor-cabor yang bersuara miring. "Kalau mereka yang berprestasi (saya yakin) pasti support, tetapi kalau mereka yang tidak berprestasi lalu cemburu. Itu mah cemen. Ini satu orang yang membawa dampak kemana-mana loh. Bukan satu orang sembarangan. Satu orang dari 250 juta orang yang memiliki kemampuan untuk ikut di dalam ajang kelas dunia," katanya.
"Coba lihat Petronas bagaimana dia aktif masuk kemana-mana. Indonesia itu harus mulai propaganda, harus mulai promosi. Anggaran itulah yang harusnya diberikan kepada Rio. Promosi dalam skala internasional dan disaksikan banyak negara. Seperti Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini juga harusnya menterinya harus aware, jangan sibuk yang promosi di daerah yang tarian saja. tapi di olahraga banyak dampak lebih besar karena eventnya lebih banyak," pungkasnya.
Soal pembayaran uang sponsor yang belum terkumpul hingga kini, Rio bersama manajemennya sempat mendatangi pengusaha Sandiaga Uno untuk memberikan proposal bantuan. Sementara Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Rosan P Roeslani, juga sudah menyatakan bakal mencoba memberikan bantuan pada pebalap 23 tahun itu.
(mcy/din)











































