GP2 dikenal sebagai feeder untuk balapan F1. Beberapa driver top dunia lahir dari ajang itu, sebut saja Lewis Hamilton, Nico Rosberg, Nico Hulkenberg dan masih banyak lagi. Rio pun datang dari balapan GP2 dengan total tiga musim berlaga di sana.
Tapi GP2 dan F1 berbeda sangat jauh dalam hal teknologi mobil. Karenanya Rio masih terus beradaptasi dengan jet darat yang baru dia kendarai dua kali di Melbourne dan Bahrain itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi selain digunakan juga harus melakukan setting yang 30 (tombol) itu. Adaptasinya step by step. Nah, sekarang saya lebih familiar. jadi sudah semakin percaya diri di dalam mobil. Semoga di berikutnya bisa meraih hasil baik, karena walaupun di Bahrain finish saya belum puas," sambung Rio.
Hal yang diakui Rio paling sulit untuk dilakukan adalah bagaimana mengatur pemakaian bahan bakar. Mencoba menghemat bahan bakar akan membuat laju mobil lambat, sementara jika langsung digeber sejak awal akan membuat bahan bakar lebih cepat habis.
"Kenapa (mengantur bahan bakar)? Karena sekarang di F1 enggak ada pit stop untuk bahan bakar. Jadi saat awal lomba bahan bakarnya full, saya tidak ingin terlalu pelan hemat bahan bakar atau terlalu cepat bensin habis. Jadi kecepatannya harus konstan," ujar dia. (din/fem)











































