Jelang F1 Musim 2006 (4)
Kimi Terbaik dari Lima yang Baik
Selasa, 07 Mar 2006 16:09 WIB
Jakarta - Fernando Alonso seharusnya bisa mempertahankan gelar. Tetapi "kontrak awal"-nya dengan Mercedes McLaren mengubah total peta persaingan, dan Kimi Raikkonen berada di atas angin.Peluang menjadi juara memang tidak lepas dari kesiapan teknis. Mobil dengan semua kompenennya seperti mesin, chassis sistem kendali hingga ban adalah faktor utama yang wajib diperhatikan. Tetapi saat dua tim atau lebih yang sedang bersaing memiliki kemampuan teknis berimbang, maka pembalaplah yang menjadi penentu.Alonso sudah terbukti memiliki kemampuan seorang juara. Meski musim lalu orang tetap menilai Kimi sebagai pembalap tercepat, namun konsistensi menjadi kata kunci untuk meraih sukses. Tanpa konsistensi, hasil yang diperoleh persis seperti yang dialami Kimi.Tetapi untuk bicara musim 2006, Alonso tidak lagi menjadi jagoan utama meski tetap menjadi target yang harus dikalahkan. Mengapa? Sebab selama persiapan menjelang musim 2006, Renault jauh dari kondisi ideal. Hasil ujicoba lebih didominasi McLaren Mercedes dan Ferrari, meski di beberapa sesi terakhir Renault mulai mencatat waktu tercepat.Faktor teknis? Sulit menemukan kesalahan Renault. Tetapi untuk menyebut masalah non-teknis yang bakal berpengaruh besar, sangat mudah. Hal yang paling pertama terlintas ialah kejutan dari Alonso yang mengumumkan telah resmi menandatangani kontrak dengan McLaren untuk musim 2007.Bukan soal kepindahannya yang bermasalah, tetapi timing mengungkapkan fakta ke media sangat tidak tepat. Bisa dibilang ini adalah "kebodohan" yang tidak seharusnya dilakukan Alonso.Bagi Renault, ini adalah pukulan keras. Sebaliknya McLaren mendapatkan keuntungan berganda. Tidak ada lagi jaminan Alonso bakal tampil all out seperti musim lalu. Bahkan juga tidak ada jaminan kru Renault mau mati-matian berjuang mengantarkan Alonso kembali menjadi juara dunia. Ini dikaitkan dengan isu bahwa Renault akan mundur dari F1 musim 2007.Dampak perkembangan non-teknis ini justru menguntungkan Kimi yang gagal meraih gelar karena tidak konsistennya mobil MP4-20. Padahal musim lalu pembalap berusia 26 tahun itu berhasil menjuarai tujuh seri, sama dengan prestasi Alonso. Tetapi karena tidak mendapatkan poin sama sekali di beberapa seri, Kimi harus gigit jari.Hadirnya Alonso di McLaren musim 2007 juga membuat Kimi harus memikirkan masa depannya. Sangat berisiko jika harus bersaing dengan rekan setim, sambil memperhitungkan kekuatan lawan. Berduet dengan seorang Juan Pablo Montoya saja Kimi sudah "rugi". Sebab jika tiga podium pertama yang diraih Montoya musim lalu jatuh ke tangannya, maka dipastikan gelar juara dunia sudah dimiliki.Untuk meyakinkan calon tim persinggahan selanjutnya, Kimi harus membuat prestasi spektakuler. Artinya gelar juara merupakan harga mati. Dengan kondisi demikian, maka Ferrari yang mulai mencari "jagoan" baru, bisa lebih yakin "mempensiunkan" Schumi yang disebut-sebut sudah melewati masa emasnya.Tetapi kondisi di atas baru merupakan hubungan antara Renault-McLaren. Ada faktor yang bisa membuat bukan Alonso ataupun Kimi yang berkuasa, melainkan kembalinya kedigdayaan Schumi-Ferrari. Bagaimana mungkin?Musim lalu prestasi Ferrari anjlok disebut-sebut karena ban Bridgestone tidak bisa bersaing dengan Michelin. Kompetisi dua produsen ban ini sekarang sudah memasuki babak akhir, karena Michelin tidak akan berada di F1 mulai musim 2007. Lagi-lagi faktor motifasi untuk mendapatkan yang terbaik, diragukan bisa dipertahankan Michelin. Sebaliknya Bridgestone justru akan mendapatkan bantuan tambahan berupa masukan data yang sangat berarti dari rekanan barunya yakni, Toyota dan Williams yang bergabung bersama Midland dan Super Aguri. Dengan demikian perbandingan antara pengguna Michelin dan Bridgestone yang tadinya adalah 7:3, kini menjadi lebih berimbang yakni 6:5.Kesimpulannya, akan ada perubahan. Jika mengikuti peta kekuatan musim lalu, maka Kimi pantas juara. Tetapi jika di luar persaingan Kimi-Alonso, maka Schumi-lah yang bakal kembali juara.Bagaimana dengan pembalap lainnya? Sampai saat ini hanya ada dua tim yang mungkin bisa mendobrak jajaran atas yakni Honda dan Toyota. Meski demikian Honda butuh keajaiban untuk bisa langsung menyodok, setelah kegagalan besar yang dialami bersama tim BAR musim lalu. Hal serupa juga dialami Toyota yang meski disebut sebagai tim paling royal, namun belum bisa bicara banyak.Jika memang akan ada kejutan dari kedua tim ini, maka dipastikan hanya ada satu pembalap yang bakal "diberikan jalan". Di tim Honda, Jenson Button akan menjadi pilihan utama dibanding Rubens Barrichello, mengingat pengorbanan tim untuk membebaskannya dari Williams. Sementara di tim Toyota, Jarno Trulli masih lebih dijagokan ketimbang Ralf Schumacher.Urutannya, Kimi-Schumi-Alonso-Button-Trulli. Di luar lima nama ini, bisa dipastikan mereka hanyalah "kuda hitam" jika tidak bisa dibilang pelengkap.Foto: Kimi Raikkonen (Mercedes). (lom/)











































