Toyota Cari 'Schumi' Asal Jepang
Selasa, 26 Des 2006 12:33 WIB
Tokyo - Minimnya driver Jepang di kontes F1 membuat Toyota mengeluarkan program kerja baru. Mencari dan membentuk pembalap-pembalap lokal Jepang sebagai pembalap F1 berkualitas dunia adalah tujuan utama.Seperti diketahui pembalap-pembalap Asia jarang berbicara banyak di kontes F1. Takuma Sato, pembalap asal Jepang yang cukup memiliki pengalaman, juga tidak bisa menunjukkan performa mengagumkan bersama Super Aguri musim lalu.Fenomena itulah yang menjadi keprihatinan tersendiri bagi kubu Toyota. Alhasil terbentuklah satu program baru, yaitu mencetak pembalap-pembalap berkualitas dari Jepang."Itulah mimpi dan tujuan kami, membentuk pembalap yang kompetitif dari Jepang," tegas manajer divisi olahraga motor Toyota Hiromi Hayashi kepada AFP, Selasa (26/12/2006).Kamui Kobayashi, manajer olahraga Toyota menambahkan bahwa ada keinginan dari pihaknya untuk mencetak Michael Schumacher baru, terutama dari pembalap-pembalap Jepang."Tim F1 sering membeli pembalap-pembalap jadi. Tapi sekarang mereka mencoba menemukan pembalap kasar tapi berpotensi seperti yang dilakukan Mercedes (melalui program pembalap junior Mercedes) pada Schumacher. Kami harap Schumacher kedua bisa muncul dari tim kami," ungkapnya.Schumi memang merupakan pembalap jebolan program pendidikan Mercedes. Di tahun 1990 ia mengawali masa pendidikannya dan langsung meraih kemenangan dan finis di posisi lima pada klasemen akhir di ajang World Sports-Prototype Championship. Catatan manis Schumi juga berlanjut di tahun berikutnya, meski tidak cukup mentereng. Ditahun itu pula Schumi memulai karirnya sebagai pembalap F1 debutan bersama Benetton.Sejauh ini 15 pembalap sudah dihasilkan Toyota, termasuk diantaranya test driver Williams musim depan Kazuki Nakajima. Namun demikian Hayashi menambahkan bahwa kubunya tidak akan puas jika pembalap hasil didikan mereka hanya bisa menjadi pelengkap balapan saja."Kami tidak akan puas melihat Nakajima hanya menjadi pembalap F1 saja. Kami ingin dia bisa mengakhiri balapan di podium," tutur Hayashi lagi.Akan tetapi ada sedikit masalah yang harus dihadapi setiap pembalap Jepang jika ingin berlaga di level internasional. Meski pembalap Jepang dinilai sudah banyak mengalami peningkatan performa dalam lima musim terakhir, kendala bahasa tetap menjadi problem utama mengingat warga Jepang cukup kesulitan mengadopsi bahasa lain."Pembalap Jepang sangat sulit berbahasa Inggris. Padahal komunikasi sangat penting," tutur Kobayashi lagi.Ia juga menambahkan bahwa pembalap Jepang terlalu malu dalam mempromosikan dirinya sendiri jika dibandingkan dengan pembalap Eropa yang bisa mengaktualisasikan dirinya. (ian/mel)











































