Tahun Depan, Lewis!

Tahun Depan, Lewis!

- Sport
Senin, 22 Okt 2007 08:34 WIB
Tahun Depan, Lewis!
Jakarta - Jika Lewis Hamilton mampu naik podim 12 kali dari 17 seri dan merengkuh empat kemenangan, tak pantas lagi ia disebut rookie. Tapi karena ia memang rookie, nanti sajalah ia juara.Terlalu panjang untuk menuliskan fenomena anak muda Inggris kelahiran 7 Januari 1985 itu di sepanjang musim pertamanya di jalur Formula 1. Dengan semua yang telah dilakukan dan diperolehnya dalam satu tahun ini, sudahlah cukup buatnya dibuatkan buku biografi.Hamilton adalah sensasi bahkan sejak hari pertama ia diterjunkan ke kancah Formula 1 oleh McLaren. Rekor pertamanya itu adalah orang kulit hitam pertama yang pernah menjadi pembalap F1. Walaupun berbau rasis, tapi rekor itu kemudian beranak-pinak menjadi rekor-rekor lainnya.Pada debutnya Hamilton langsung menorehkan prestasi langka. Hanya kalah dari Kimi Raikkonen dan Fernando Alonso, ia menjadi pembalap ke-14 dalam sejarah yang finis di atas podium dalam balapan pertamanya.Dari seri ke seri, terutama sampai seri kesembilan, selalu ada rekor-rekor baru yang dibuat Hamilton. Di antaranya adalah finis podium berturut-turut terbanyak di musim pertama (9 kali); pembalap termuda yang memimpin klasemen sementara; pembalap termuda ketiga yang pernah meraih pole position; dan pembalap pertama yang meraih dua kemenangan beruntun dari pole position di musim pertamanya.Ia juga menyamai rekor Jacques Villeneuve di tahun 1996 dengan mendulang kemenangan paling banyak pada musim debutnya sebanyak empat kali. Sampai sini saja sudah tergambarkan rookie macam apa Hamilton.Maka dunia pun merangkul laki-laki yang nama 'Lewis'-nya diambil dari nama sprinter legendaris favorit kedua orangtuanya, Carl Lewis. Kehidupan Hamilton pun mendadak berubah. Ia jadi pesohor, kekayaan pun datang dengan sendirinya. Semua orang tiba-tiba begitu penasaran dengan setiap gerak-geriknya.Talenta dan kemampuan Hamilton mengendarai jet darat memang langsung tidak diragukan. Baru dua kali tampil para pengamat sudah menyatakan dirinya sama sekali tidak terlihat seperti pembalap baru. Ia tidak demam panggung, tidak panik jika tertekan. Caranya meng-overtake lawan begitu berani tapi penuh perhitungan dan bersih. Beruntung, McLaren pun menyediakan dia mobil yang mumpuni. Hamilton juga mampu menjaga konsistensi performa dalam setiap balapan. Kesimpulan cepatnya: semua syarat menjadi pembalap besar telah ia miliki.Namun bukan berarti ia tak punya kelemahan dan tak pernah melakukan kesalahan. Kesalahan besar pertamanya bahkan berakibat fatal. Pada GP Cina ia nyasar ke gravel di pintu masuk pitlane. Mobilnya terjebak dan out. Kelak insiden itu membuatnya kehilangan banyak poin dan ujung-ujungnya menghanguskan kesempatan buat juara di seri pamungkas.Sampai kesalahan itupun terjadi Hamilton masih membuat fans F1 tercengang-cengang, sekaligus membuat ketar-ketir penggemar Raikkonen dan Alonso. Menjelang GP Brasil tadi malam ia tetap dalam posisi terdepan untuk menyabet gelar juara dunia, hal yang dipastkan menjadi rekor dari semua rekor fantastis seorang rookie.Namun dunia rupanya masih belum "mau" menyulap seorang "anak kemarin sore" langsung jadi raja. Di penghujung kompetisi dewi fortuna malah menjauhi Hamilton dan memilih mendekati Raikkonen, yang sudah kebut-kebutan di trek F1 selama tujuh tahun. Hamilton mengalami kendala girboks pada mobilnya, dan capaian terbaiknya hanya finis di urutan ketujuh. Raikkonen yang keluar sebagai pemenang pun unggul satu poin di klasemen akhir dan berhak atas titel juara.Biarpun gagal di seri terakhir, tapi tak mungkin dipungkiri bahwa Hamilton telah membuka jalannya menuju sukses di masa mendatang. Ia pantas pula berbangga hati dengan fenomena yang dibuatnya di musim pertamanya ini. Tangga juara sudah begitu dekat dengan Hamilton, dan mungkin saja bisa ditapakinya di musim berikutnya. (a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads