Manajemen Tim Ferrari yang Seharusnya Dicuri McLaren
Senin, 22 Okt 2007 10:43 WIB
Jakarta - FIA menyatakan McLaren bersalah atas pencurian data Ferrari. Fakta bahwa tim Kuda Jingkrak akhirnya menyapu bersih gelar, mungkin manajemen tim yang harusnya di-foto copy McLaren.Tak perlu ditanya lagi berapa banyak keuntungan yang didapat McLaren atas informasi rahasia Ferrari itu. Tapi meski duo pembalapnya dalam posisi terdepan dan jauh lebih diunggulkan, hasil GP Brasil, Minggu (21/10/2007) mengubah itu semua.Dari apa yang terjadi di Interlagos, Ron Dennis dan seluruh kru McLaren mungkin bisa belajar satu hal: memanajemen tim yang baik punya peran yang tak kalah besar dari sekedar kecepatan mesin dan reliabilitas mobil.Terlalu banyak perselisihan di tubuh McLaren sepanjang musim ini dengan Fernando Alonso seakan menjadi duri dalam daging. Hal mana tidak terlihat di tim yang bermarkas di Maranello.Dinihari tadi saat digelar seri terakhir yang menjadi penentu perebutan gelar juara, Lewis Hamiton dan Alonso justru kembali saling sikut. Hasilnya pun kita ketahui bersama, Kimi Raikkonen menjadi juara dunia setelah finis di podium teratas.Keputusan Ron Dennis untuk meniadakan pembalap nomor satu dan nomor dua tak bisa disalahkan. Pria Inggris itu cuma berusaha untuk memberikan jatah keadilan yang sama buat dua pembalapnya.Namun dalam situasi krusial seperti dinihari tadi, apa yang dilakukan Dennis sepertinya kurang bijak. Setelah dicoret dari klasemen konstruktor McLaren Mercedes kini harus memperpanjang lagi puasa gelar yang terakhir mereka raih tahun 1999 atas nama Mika Hakkinen.Start dari posisi dua, Hamilton berpeluang besar menorehkan sederet rekor. Sayang karena tak mendapat dukungan dari rekan setimnya, pemuda Inggris itu harus menunda setumpuk mimpi yang sebelumnya tampak sangat nyata itu.Kemalangan Hamilton yang dimulai di Cina dua pekan lalu berlanjut di Brasil. Sudahpun dihalang-halangi oleh Felipe Massa di awal lomba dia harus pula bertarung sengit dengan Alonso.Pertarungan dengan rekan setimnya itu merupakan awal dari mimpi buruk pembalap 22 tahun itu. Setelah kalah dalam duel satu lawan satu dengan sang juara dunia, Hamilton malah kehilangan kendali atas MP4 22 miliknya dan terpaksanya nyasar ke gravel. Dia memang bisa kembali ke lintasan tapi posisinya sudah turun ke urutan tujuh.Kegagalan menjadi juara dunia ini adalah klimaks dari sederet ketidakharmonisan tim McLaren musim ini. Mulai dari insiden di GP Monaco, "antrian" di pit Hungaroring sampai pembelotan Alonso dengan menjadi saksi kasus pencurian data menjadi masalah besar yang memakan biaya hilangnya gelar demi gelar Mclaren.Kondisi tersebut jelas bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Ferrari. Meski hampir selalu tertinggal sepanjang musim ini, duet Felippe Massa dan Kimi Raikkonen sangat akur. Inilah harusnya menjadi sebuah pelajaran buat McLaren. Kecepatan mobil dan reliabilitas mesin memang sangat penting, namun itu bukan segalanya. Ada kerja sama dan keharmonisan tim yang jadi modal besar untuk meraih kejayaan.Saat memutuskan menyimpan 780 halamam dokumen tekhnis Ferrari, McLaren mungkin seharusnya juga meminta pada Nigel Stepney untuk mem-foto copy dokumen manajemen tim "Kuda Jingkrak". (din/a2s)











































