Rasisme, Musuh Baru F1

Rasisme, Musuh Baru F1

- Sport
Rabu, 06 Feb 2008 06:25 WIB
Rasisme, Musuh Baru F1
Jakarta - Usai diguncang kasus spionase musim lalu, F1 kembali terhenyak musim ini. Kemunculan Lewis Hamilton sebagai pembalap kulit hitam pertama ternyata melahirkan musuh baru bernama rasisme.

Ajang F1 bahkan belum memulai roda kompetisinya musim ini. Baru sesi ujicoba yang digelar, namun kontoversi dan kecaman sudah merebak menyusul tindakan sekelompok fans Spanyol yang meneriakkan dan memampang spanduk bernada hinaan atas dasar warna kulit pada Lewis Hamilton.

Di sepakbola atau olahraga lain, rasisme sudah jadi musuh bersama yang diperangi sejak lama. Namun apa yang dialami Hamilton di Catalunya awal pekan ini jelas sangat mengejutkan karena ajang jet darat bisa dibilang bersih dari aksi-aksi seperti ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hamilton mungkin pembalap kulit hitam pertama di balik kokpit F1. Namun jagoan muda McLaren Mercedes itu tak sepantasnya menjadi korban rasisme karena warna kulit. Faktanya pembalap kulit berwarna lain semisal Alex Young, Takuma Sato dan Adian Sutil yang asal Asia atau Ruben Barrichelo serta Juan Pablo Montoya yang dari Amerika utara "aman-aman" saja selama ini.

Yang menjadi dasar sekelompok fans tersebut melakukan tindak rasisme justru sangat menggelikan. Kabarnya itu dilakukan sebagai bentuk rasa benci mereka karena terdepaknya Fernando Alonso dari tim tersebut menyusul perseteruan dengan Hamilton yang lebih didukung oleh McLaren.

FIA sebagai otoritas yang berwenang langsung mnyelidiki kasus tersebut. Ancaman hukuman memang ada meski belum bisa dipastikan. Namun dengan tingkat pelanggaran yang dianggap tak bisa ditolelir lagi, pencoretan Spanyol sebagai tuan rumah F1 kemudian mengemuka.

"Tindakan seperti ini tak punya tempat dalam masyarakat atau olahraga. Jika FIA serius menanganinya mereka harus memikirkan meniadakan balapan (F1) dari Spanyol jika kejadian tersebut berulang," ungkap pembalap Inggris terakhir yang menjuarai F1, Damon Hill di The Sun.

Pemerintah Inggris juga tidak tinggal diam dengan insiden tersebut. Menteri Olahraga Inggris, Gerry Sutcliffe, bahkan berencana mengajukan surat protes resmi pada Spanyol atas perlakuan terhadap salah satu pembalap terbaiknya.

"Saya akan menulis surat pada menteri olahraga spanyol untuk mengungkapkan keprihatinan kami terhadap olahragawan kami. Pemerintah kami melihat ini sebagai masalah besar. Rasisme tidak seharusnya ditoleransi dan ini berujung pada pertanyaan apakah seri F1 bisa digelar di sirkuit ini," ungkap Sutcliffe di F1 Live.

Spanyol selama ini memang dikenal sebagai salah satu negara dengan prilaku rasis, utamanya di dunia olahraga, yang cukup tinggi. Samuel Eto'o, Theirry Henry sampai Ashley Cole sempat jadi korban pelecehan karena warna kulit.

Kalau sepakbola punya beberapa kampanye untuk memberantas rasisme semisal "Show Racism The Red Card" di Inggris, dan "Football Against Racism in Europe yang melingkupi Benua Biru, mungkin sudah saatnya FIA membuat gebrakan serupa.
(din/ian)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads