Di GP Amerika Serikat 19 Juni 2005, Rubinho --bahasa Portugis yang berarti Rubens Kecil-- melintasi garis finis pada posisi dua. Masih mengendarai Ferrari, dia melengkapi kesuksesan tim itu dalam mencatatkan finis satu-dua dengan Michael Schumacher jadi nomor satu ketika itu.
Itu adalah kali terakhir Rubinho mencicipi rasanya berdiri di podium.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, prestasinya hancur-hancuran di musim keduanya bersama Toyota, atau musim 2007. Selain dua kali retire, Rubinho juga tak bisa mengais satu poin pun. Finis terbaiknya hanya menempati posisi sembilan di GP Inggris.
Masalah juga belum lepas merundungnya di musim 2008. Pada seri pertama di GP Australia, dia terkena diskualifikasi. Di seri kedua, GP Malaysia, masalah girboks membuatnya harus puas tercecer di tempat ke-13. Berturut-turut dia lantas mencatat posisi 11 di GP Bahrain dan retire di GP Spanyol.
Di GP Turki yang jadi seri kelima, semacam dorongan tambahan didapat. Rubinho memang hanya finis tanpa poin di posisi 14, tapi di sana dia mengklaim Grand Prix ke-257, sekaligus mematahkan rekor 256 Grand Prix Riccardo Patrese untuk jadi pembalap paling berpengalaman di sirkuit "jet darat".
Setelah Turki, Rubinho yang mengawali karir F1-nya bersama tim Jordan pada tahun 1993 silam itu pun akhirnya mendulang poin di dua seri selanjutnya --Monako dan Kanada. Hasil buruk memang sempat tercipta di GP Prancis, setelah dia hanya finis di posisi 14. Namun kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda.
Di GP Inggris, Minggu (6/7/2008), Rubinho tampil apik. Start di posisi tak menguntungkan --urutan 16-- dia bisa melalui sirkuit yang basah diguyur hujan untuk jadi pembalap ketiga tercepat yang melintasi garis finis. Ini adalah podium ke-62 veteran itu di F1 dan yang pertama buat Honda musim ini.
"Aku tak pernah kehilangan keyakinan yang saya miliki terkait kecepatan dan lainnya. Itu jelas adalah hari keberuntungan dan itu sepertinya menaungiku. Aku suka kondisi cuaca yang basah tapi itu adalah balapan yang sempurna. Tadi aku melewati orang-orang dari luar dan dalam, itu seperti keajaiban," ceria dia seperti dikutip Autosport.
Dengan kesuksesan tersebut, pembalap yang sekarang mengemas 11 poin dan duduk di tempat kesepuluh klasemen itu bak kasmaran lagi dengan olahraga yang digelutinya. "Aku memiliki perasaan menyenangkan ini, aku merasa muda lagi. Aku tersenyum ke arah masalah (yang menghadang) dan aku bekerja lebih keras. Aku cinta olahraga ini, aku cinta kecepatan dan tak bisa hidup tanpanya."
Berbekal rasa cinta yang sedang menggelora tersebut, patut ditunggu apakah podium di GP Inggris benar-benar akan jadi titik balik Rubinho untuk membenahi performa. (krs/ian)











































